Archive for July, 2005

“Kontroversi Dewa”

Saturday, July 30th, 2005

4uyq77 4uyqf4

4uyqlu

Baru-baru ini, Indonesia telah digemparkan dengan insiden 10 April 2005 apabila Kumpulan Dewa,didakwa telah memijak kaligrafi kalimah ALLAH berbentuk bintang yang disiarkan secara langsung menerusi saluran Trans TV. Kaligrafi tersebut merupakan lambang album terbaru Dewa, Laskar Cinta.Malahan ada yang melabelkan Kumpulan Dewa sebagai penyebar simbol-simbol Yahudi yang terbesar dalam sejarah Indonesia.H Ridwan Saidi yang juga bekas Ahli Parlimen (DPR) telah menyelar Kumpulan Dewa secara khursusnya terhadap Ahmad Dhani sebagai agen penyebar propaganda Zionis Yahudi.Menurutnya gambar piramid yang terdapat pada kulit album DEWA 19 (1992) adalah mirip lambang gerakan rahsia Zionisme (Illuminati) yang dicipta oleh Adam Weishaupt (1748-1830).

Bagi mendapatkan informasi serta jawapan terhadap isu  Dewa menggunakan logo dengan simbol yang mirip kaligrafi Islam yang bertulisan nama “Allah” aku telah membaca sebuah article yg diberikan oleh eekmal karangan saudara Agus Iswanto dari web Jaringan Islam Liberal.Setelah membaca, jelas sekali aku amat bersetuju dengan padangan yg diberikan oleh pengarang tersebut…

Memaknai Simbol Agama:

Refleksi Gugatan FPI atas Dewa

Oleh Agus Iswanto

kelompok band papan atas

Indonesia

, Dewa, mendapat gugatan dari Front Pembela Islam (FPI) yang diketuai oleh Habib Riziq. Gugatan itu soal “pelecehan terhadap Islam”. Pasalnya, dalam album terbarunya, Dewa menggunakan logo dengan simbol yang mirip kaligrafi Islam yang bertulisan nama “Allah”. Habib Riziq keberatan karena lambang itu pernah dijadikan alas panggung yang diinjak-injak saat Dewa tampil dalam suatu konsernya. Salah satu stasiun televisi swasta negeri ini,

22 April 2005

lalu mengabarkan bahwa salah satu kelompok band papan atas

Indonesia

, Dewa, mendapat gugatan dari Front Pembela Islam (FPI) yang diketuai oleh Habib Riziq. Gugatan itu soal “pelecehan terhadap Islam”. Pasalnya, dalam album terbarunya, Dewa menggunakan logo dengan simbol yang mirip kaligrafi Islam yang bertulisan nama “Allah”. Habib Riziq keberatan karena lambang itu pernah dijadikan alas panggung yang diinjak-injak saat Dewa tampil dalam suatu konsernya. Lebih dari itu, logo itu juga menghiasi foto-foto para personel Dewa yang bertato.

Jika tuduhan itu benar, yakni melecehkan dan menghina Islam sebagai agama yang saya anut, saya bisa saja naik pitam. Bukan hanya umat Islam, umat agama apapun akan marah jika agama yang menjadi kepercayaan dan mereka sucikan diinjak-injak. Untungnya, emosi saya tidak sempat membabi buta tanpa proses tabayyun lebih dulu. Sebab, sikap seperti itu jelas-jelas bertentangan dengan Islam yang sangat melarang perbuatan fitnah. Kejelasan akhirnya justru saya peroleh dari tayangan yang saat itu memperlihatkan logo yang dianggap melecehkan Islam itu.


Saya lalu berpikir, logo bintang delapan yang dipakai itu, bagi saya tidak pernah bermakna apa-apa jika kita tidak mengait-kaitkan dengan Islam. Bahkan saya tidak melihat adanya kaligrafi bertuliskan nama Allah dalam logo itu. Dari sini saya menjadi jelas, tuduhan dan gugatan itu hanya kesalahpahaman belaka. Tapi bagaimanapun juga, dari kasus tersebut kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran. Dan, setidaknya ada dua pelajaran dan hikmah penting yang dapat diambil dari kasus ini.


Pertama, sebagaimana telah saya terangkan, fitnah sangat bertentangan dengan Islam. Karena itu, agar tidak terjebak fitnah, kita perlu bertabayyun dalam kasus apapun. Tabayyun atau klarifikasi dan dialog adalah penting dalam kaitannya dengan soal kerukunan umat beragama. Sebab, konflik yang bermuara pada aksi kekerasan dan anarkis, tak jarang bermula dari kesalahpahaman. Untuk mencapai kerukunan agama, sikap terbuka dan klaim kebenaran sepihak yang egois, harus jauh-jauh disingkirkan. Sikap itu perlu diganti dengan sikap terbuka, mau menerima orang dan kepercayaan lain tanpa harus memvonis benar dan salah.

Kedua, keberagamaan seharusnya juga tidak perlu terjebak dalam simbol, yang bukan substansi atau ruh agama itu sendiri. Allah telah berfirman dalam surah al-Hajj ayat 37: “Daging-daging unta dan darahnya itu, sekali-kali tidak dapat mencapai keridaan Allah; tapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” Dari ayat di atas, sudah jelas bahwa bukan materi-materi yang dijadikan penilaian kualitas ketakwaan dan kesalehan seorang. Yang menjadi pokok penilaian adalah takwa yang merupakan ruhnya. Bahwa takwa perlu dibuktikan dengan perbuatan ibadah, baik mahdhah maupun ghairu mahdhah memang benar. Tapi yang harus diingat juga, bentuk-bentuk materi fisik yang berwujud simbol itu janganlah mengalahkan pentingnya substansi dan ruh beragama. Sekumpulan simbol-simbol agama dan Alqur’an sendiri yang dapat dikatakan serangkaian tanda-tanda bahasa yang mengandung makna, tidak juga perlu membuat kita terjebak dalam jaring-jaring semiotika (tanda) itu. Simbol-simbol itu sebaiknya digunakan untuk memikirkan dan mencerna apa maksud dan makna di baliknya. Ini menegaskan bahwa selalu ada ruh di dalam daging agama.

Dalam era multireligius yang menuntut kerukunan beragama, lebih memperhatikan substansi sikap keberagamaan adalah kebutuhan yang mendesak. Kasus di atas, saya rasa hanya permasalahan simbol belaka. Dalam kasus di atas, yang digunakan kebetulan bintang delapan mirip lafaz Allah yang memang banyak digunakan dalam kaligrafi Islam. Jadi tidak salah jika itu dikatakan sebagian kecil dari simbol Islam. Tapi perlu ditegaskan kembali, pemaknaan logo itu kembali lagi berpulang pada individu yang memaknainya. Pemaknaan simbol itu sendiri adalah sebuah penafsiran. Kegiatan penafsiran sangat terkait dengan subyektivitas sang penafsir, atau sekelompok penafsir, dan lingkungan di sekitarnya. Dari sini, soal konteks sangat mempengaruhi produk penafsiran atas simbol-simbol. Dan karena tafsir adalah wilayah subyektif, maka perbedaan penafsiran adalah sebuah keniscayaan. Perbedaan penafsiran selalu ada dalam semua aspek Islam, baik di bidang fikih, akidah, sikap terhadap sains dan problem sosial.

Dalam Islam juga terdapat ajaran yang bersifat substansial dan ajaran yang sifatnya nonsubstansial. Ajaran-ajaran substansial adalah nilai-nilai universal yang menjiwai hal-hal nonsubstansial. Keduanya bersifat komplementer, tidak linear, atau bahkan bertentangan. Tidak dikatakan manusia, jika yang tersisa hanya ruh tanpa jasad, dan begitu juga sebaliknya. Namun keistimewaan simbol adalah posisinya yang arbitrer dan sangat bergantung bagaimana kita melihatnya. Karena itu, kita tidak perlu menyalahkan penilaian seseorang akan simbol-simbol tersebut. Simbol tetap saja simbol yang bisa saja diganti dengan simbol lain. Inilah dua hikmah sekaligus solusi dari kasus di atas.

Karena itu, kita tidak segan untuk saling tabayyun, sehingga dapat memahami apa yang dikehendaki seseorang terkait dengan penilaian simbol (agama) yang ia gunakan. Dua hal ini sebaiknya kita gunakan untuk mewujudkan kerukunan umat beragama di era yang plural, multietnis, dan multireligius ini. Sikap terbuka, suka berdialog, dan mau menerima kehadiran kelompok lain adalah solusi dan jalan perdamaian di tengah semaraknya konflik agama dan antar golongan. Kasus gugatan di atas, tanpa menyudutkan FPI, hanya sekadar soal salah paham dan soal beda penafsiran atas simbol-simbol yang tidak substantif. Keistimewaan agama pada hakikatnya bukan pada bentuk formal dan simbol-simbol, tapi pada nilai universal yang akan selalu beradaptasi sepanjang masa dan tempat.

Agus Iswanto, alumni Pondok Pesantren Buntet Cirebon, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Ramai ingin percaya bahawa Pas sedang berubah. Adakah benar dan mungkin?

Monday, July 18th, 2005

Flagpasmain

Ihsan, 25 tahun, mahasiswa Undang-undang, berasal dari Kedah

Soalan: Secara umum, apa pandangan saudara-saudara tentang perubahan dalam PAS terutama melihat golongan profesional mendapat tempat dalam barisan pimpinan tertinggi selain kerusi Timbalan Presiden jatuh ke tangan orang muda?

Ihsan: Secara luaran, proses pertukaran mungkin memberi imej positif kepada Pas. Tetapi dari segi idea dan falsafah perjuangan saya merasakan mereka masih lagi bergerak dalam kerangka tradisional, masih sama corak pemikiran dan corak dakwah yang mereka bawa. Saya merasakan pertukaran pemikiran yang pernah berlaku dalam Pas hanya berlaku semasa arwah ustaz Fadzil dan Yusuf Rawa mengambil alih kepimpinan dari Asri Muda. Itu baru betul berlaku perubahan pemikiran. Sebab di zaman ustaz Asri Muda Pas berunsur nasionalis walaupun namanya Parti Islam. Kadang-kadang ultra-Melayu. Itu menunjukkan unsur Pas yang berlainan sekarang ini. Di zaman Yusuf Rawa dan ustaz Fadzil model daripada gerakan Islam Timur Tengah dibawa masuk.

S: Sebagai anak muda, bagaimana pula pandangan saudara-saudara terhadap Pas sebagai sebuah parti politik?

Ihsan: dari segi pengalaman saya hampir sama dengan kedua-dua kawan kita di sini. Saya mengenal Pas dengan cara yang menyusahkan. Tetapi itu tidak mengubah pandangan saya terhadap Pas. Walaupun waktu itu saya tidak katakan Pas itu sacred, maksudnya jangan sentuh Pas, kalau sentuh boleh melenting. Tetapi ini pengalaman saya dan saya tak mahu generalize kepada orang lain. Itu pengalaman saya. Beberapa buku menjadi turning point kepada saya, mengubah persepsi saya, seperti buku Syed Naquib dan Anwar Ibrahim — Islam and secularism dan Asian Renaissance. Walaupun buku-buku itu tak menggerakkan saya untuk depart dari gerakan Islam tetapi ia menolak saya untuk berusaha dan cuba lebih membaca dan memahami perubahan.

S: Bagaimana saudara melihat daya tarikan PAS terhadap anak muda?

Ihsan: Pas sebagai sebuah parti ada potensi yang besar. Anak muda, kenapa mereka tertarik dengan Pas? Kerana imej. Bukan imej Islam mereka sahaja tetapi imej bersih. Di sebaliknya kita tak tahu. Tetapi, yang mereka tonjolkan itulah yang menarik orang muda menyertai gerakan ini. Dalam masa 5 tahun terakhir saya rasa berlaku peningkatan, terutama selepas tahun 1998-99. Tetapi banyak halangan besar dari segi media dan kekangan-kekangan yang kerajaan buat. Tetapi, post [pilihanraya umum] 1999, kita lihat banyak anak muda yang tak tertarik dengan politik, jadi apolitical. Ini yang lebih saya runsing. Saya lihat pelajar-pelajar yang lebih junior seolah menganggap politik sebagai sempadan yang jangan kita lintas. Saya tak kisah dia nak sokong Umno atau Pas, asalkan jangan langsung tidak peduli tentang politik. [Sikap apolitical] ini bahaya!

S: Adakah saudara lihat pogram Pas selama ini mesra anak muda?

Ihsan: Saya rasa ini masalah yang menyebabkan berlaku perubahan kali ini. Untuk tonjolkan pemimpin-pemimpin yang nampak segar dan muda, yang lebih memahami anak-anak muda. Saya rasa sebelum ini program-program mereka, bukan tak relevan, tetapi kurang “touch”.

S: Perbandingan pendekatan Pas terhadap orang muda dengan Umno yang mempunyai Putera, Puteri, dan program-program berbentuk konsert dan sebagainya yang lebih popular sifatnya?

Ihsan: Ini kekurangan Pas. Umno ada kelebihan di sini. Ia boleh menganjurkan konsert dan sebagainya. Tetapi Pas tak boleh sebab imej yang dibawanya. Tetapi ini boleh diatasi kalau Pas mewujudkan ikon dalam parti. Seperti dalam Revolusi Iran ada ikon super-intelektual seperti Ali Syariati. Mereka ini membawa imej yang dekat dengan rakyat.

S: Tidakkah dengan kewujudan ikon-ikon sebegini akhirnya yang dekat hanya pemuda yang agak elit?

Ihsan: Di sini Pas perlu lebih memahami situasi dan keadaan masyarakat. Usaha ini memang sukar sebab tiap kawasan mungkin berbeza. Tetapi ada isu-isu utama seperti kemiskinan yang boleh diutamakan. Sebab saya tak nampak Pas sanggup untuk menganjurkan program-program popular

S: Tadi saudara Ihsan sebutkan parti Islam seperti PAS ini konsisten menentang kezaliman pemerintah. Farish Noor dalam tulisannya baru-baru ni juga menyebutkan bahawa di mana-mana negara Islam tinggal parti-parti Islam yang teguh sebagai counter-hegemonic force. Bagaimana kenyataan ini dalam keadaan ekstremisme marak dan parti Islam dikatakan tidak compatible dengan demokrasi?

Ihsan: dalam persoalan ini ada dua cabang, pertama bagaimana media Barat portray gerakan Islam. Kedua, gerakan Islam itu sendiri. Kalau parti seperti An-Nahdah di Tunisia, pimpinan Rashid Ghannouchi, itu kita katakan betul-betul progresif. Atau seperti gerakan yang pernah dibawa oleh Ali Syariati, yang sehinggakan Jean Paul Sartre pernah katakan, “kalau ada agama yang hendak aku masuk ia adalah agama Ali Syariati.” Saya lihat ini masalah gerakan Islam sendiri. Kalau dia tidak mampu tampilkan dirinya compatible dengan masa di situlah media Barat akan portray dia sebagai tak compatible dengan demokrasi, ataupun gunakan demokrasi dan kemudian hendak hijack demokrasi.

S: Macam mana kalau dikatakan parti politik Islam sebagai parti pembangkang ia berperanan sebagai counter-hegemonic force untuk mendapatkan kuasa. Tetapi, sampai suatu masa apabila mendapat kuasa penuh, pada pandangan saudara, sejauh mana ia akan terus komited dengan demokrasi?

Ihsan: Ini yang saya lihat sebagai masalah dalam gerakan Islam sendiri. Kita ambil contoh Iran lagi, dulu gerakan Islam konsisten menentang Shah Iran — kezaliman, korupsi, pembunuhan sulit dan macam-macam lagi. Tetapi, apabila golongan Islam pula memegang kuasa mullahkrasi timbul. Yang berlaku di Kelantan mungkin tidak merosakkan asas demokrasi. Tetapi apa yang berlaku, contohnya peraturan beratur mengikut jantina di supermarket, mungkin niat Pas berlainan daripada apa yang digambarkan, tetapi gambarannya ialah bila dapat saja kuasa, dia hijack demokrasi.

S: Falsafah political-economy Dr. Burhanuddin condong kepada sosialisme. Sosialisme terbukti gagal. Jadi, sejauhmana Dr. Burhanuddin relevan dengan zaman ini?

Ihsan: Sosialisme tidak boleh dikatakan gagal sepenuhnya. Idea-ideanya kebanyakannya masih relevan. Kalau cuba balik kepada Dr, Burhanuddin mungkin baik. Saya tidak tahu sangat tentang zaman itu, sekadar mengetahui yang Dr. Burhanuddin dekat dengan Ahmad Boestamam selain memperjuangkan isu-isu yang dekat dengan massa — seperti isu bahasa, kemiskinan dan perjuangan kemerdekaan, bukan isu mewujudkan sebuah negara agama, sebaliknya cuba menjaga kebajikan rakyat Tanah Melayu pada waktu itu. Mungkin Pas boleh ke belakang — sebenarnya idea Dr. Buhanuddin itu futuristik — faham dan, sudah tentu, improvise.

S: Dari perspektif perundangan, penggubalan enakmen yang merupakan positive law apabila bercampur-aduk dengan soal agama menimbulkan masalah bagaimana?

Ihsan: Kita lihat moralitas agama cuba dipaksakan ke atas orang melalui pendekatan legalistik. Itu masalahnya. Maksudnya di sini, daripada kita menggunakan saluran yang menyebabkan mereka rela hati memakai tudung kepala, kita memaksa mereka memakai tudung. Di sini imej Islam di mata orang bukan Islam buruk. Kalau Pas hendak menggubal juga undang-undang sebegini, pakai tudung dan sebagainya, salah satu saluran terbaik ialah melalui referendum, kutipan suara. Melalui cara ini Pas dapat menyelamatkan diri dari membuat tindakan bodoh. Selain itu dia juga dapat mengetahui kehendak rakyatnya.

Senandung Cinta - Rumi

Friday, July 15th, 2005

Aku, Abuya Eekmal dan Kamarul telah ke jalan masjid india untuk menuju ke Pustaka Indonesia kerana eekmal hendak mendapatkan beberapa material untuk dijadikan bahan bacaannya.Setibanya disana aku sambil bersahaja bertanyakan kpd eekmal,"Buku ttg rumi takdak ka man?"..lantas,terus eekmal mengajukan pertanyaan aku kepada pekerja di pustaka itu.Aku diperkenalkan olehnya beberapa buah buku rumi,yang rata2 nya diterjemahkan didalam bahasa Indonesia.Tidak banyak buku atau puisi Rumi didlm bahasa Melayu..Aku belum dapat men"diajest" puisi-puisinya (mungkin tak paham) kerana tingginya ilmu beliau … Aku sukakan puisi dibawah ini…mungkin nanti akan Aku post lagi puisi-puisinya selepas aku tepu dengan mabuknya…

Manusia Tuhan mabuk tanpa anggur:
Manusia Tuhan Kenyang tanpa daging.


Manusia Tuhan adalah raja di bawah selubung sederhana:
Manusia Tuhan adalah harta kekayang pada reruntuhan,

Manusia Tuhan terpesona, kagum;
Manusia Tuhan tidak mempunyai makanan atau tidur.

Manusia Tuhan bukan dari angin dan bumi:
Manusia Tuhan Bukan dari apai dan air

Manusia Tuhan adalah tanpa pantai:
Manusia tuhan berhujan mutiara tanpa awan.

Manusia Tuhan mempunyai seratus bulan dan langit:
manusia Tuhan mempunyai seratus sinar mentari.

Manusia Tuhan adalah arif melalui kebenaran;
Manusia Tuhan bukan cendikiawan dari buku.

Manusia Tuhan adalah diluar kepercayaan dan juga ketidakpercayaan;
bagi Manusia Tuhan ‘dosa’ dan ‘pahala’ adalah disana?

Manusia Tuhan memacu berlalu dari ketiadaan;
Manusia Tuhan dengan agungnya telah datang.

Manusia Tuhan Tersembunyi, oh Syamsuddin!
Carilah, dan temukan manusia Tuhan."

Jalaluddin Rumi
604 H/1207M

Untitled

To Forgive is Divine!!

Wednesday, July 6th, 2005

"Bila kamu bisa untuk memaafkan Atas kesalahan manusia,Yang mungkin tak bisa dimaafkan. Tentu Tuhan pun akan memaafkan Atas dosa yang pernah tercipta, Yang mungkin tak bisa diampuni."-Cintailah Cinta(dewa)

Banyak perkara yang membuatkan kita saling marah memarahi, benci membenci, kutuk mengutuk, Pulau memulau sesama kita. Sampai bilakah semua ini akan bertahan atau mungkin tiada penghujungnya?Ingatlah wahai teman2 bahwa takkan ada yang abadi dan juga takkan ada yang kekal..Yang muda pun pasti menjadi tua, Hidup ini juga Pasti Mati!!

12/4 - 5/7

Sunday, July 3rd, 2005

Hari ini merupakan hari yg sibuk buatku kerna segala kerja2 yg perlu dilakukan semasa cuti 3 bulan ini perlu disettle kan hari ini..haha,biasa la bagi student uitm..last minute baru nak buat.Esok aku akan ke pulang ke shah alam bagi meneruskan alam pembelajaran ku..Sedih sekali ku merasakan..sebab tak puas lagi aku duduk di tempat asalku ini.Argh!! aku belum puas menikmati nasi dagang, nasi lemak ikan,pulut kuning,kepok lekor..Bila direnungkan kembali,cuti 3 bulan ini banyak juga meninggalkan pengalaman dan kenangan buatku.sebulan pertama aku habiskan waktu ber"attachment" di tetuan Tengku Sulaiman..lepas tu aku terus jalan2 ke penang dan singgah di kedah untuk berjumpa Abuya Eekmal serta melihat Villa keluarganya yg baru di Alor setaQ..sempat juga aku ke skolah yg digembar-gemburkan oleh Abuya iaitu Skolah kolej Abd.Hamid,dan juga aku melihat skolah Asma..Lantas juga aku turun ke KL tower bagi menyaksikan band favourite aku DEWA.Bagi aku persembahan yg disajikan mereka mantap sekali namun kecewa kerna penganjur nyata sekali tidak berpengalaman menganjurkan kosert2 besar sedemikian.Namun kepuasan tetap berada di wajah aku,Kamarul n awek,Ed,wan hazril,epul bogel n ateng..terus aku menuju ke johor baru untuk berjumpa dgn anak sedara baruku..dan terbaru aku baru saja pulang dari tasik kenyir pergi memancing bersama2 kawan2ku..

Dimasa cuti ini juga, result semester lalu diumumkan.Allamdulillah result aku agak cemerlang juga.Cuti 3 bulan ini juga memberikan banyak permasalahan buatku.Masalah yg utama berkenaan rumah sewaku di shah alam.4 org dari rakan rumahku telah mengeluarkan diri mereka,dan 3 darinya menetap diselang 1 rumah.Aku juga terpaksa menghadapi perangai dan tabiat2 kawan2 rumahku,dan juga pada masa yg sama kami yg tinggal berlima bertungkus lumus untuk membincangkan permasalah rumah kami.Aku amat berbangga sekali diatas daya usaha yg di tunjukkan oleh Ed,Hezri,Lokman n Kamarul..Allamdulillah dengan pertolongan ketentuan Tuhan dapat aku menyelesaikan masalah rumah sewaku ini disaat terakhir percutian aku tamat.

Esok aku akan meneruskan perjalanan hidupku di shah alam bagi menyambung perjuangan hidup aku untuk memastikan impian aku tercapai.Bagi aku," Hidup ini adalah perjuangan tanpa henti2..Kegagalan hari ini bukanlah beerti gagal esok hari..maka usahlah kita menangisi hari kelmarin..dan juga Kemenangan hari ini bukanlah juga beerti kemenangan esok hari..segala permasalahan dan cabaran aku hadapi dengan senyuman serta tenang jiwa,dan percaya semuanya kan baik2 saja.."