Archive for September, 2005

Mukadimah..”Ayuh Berbicara/diskusi/dialog”

Monday, September 26th, 2005

Salah satu identiti orang beriman disebutkan oleh Alquran adalah orang yang suka berdialog dan bermusyawarah (al-Syura: 38). Alquran juga membangun misinya dengan dialog. Alquran adalah kitab suci yang berisi dialog-dialog antara Allah, malaikat, nabi, umat manusia, binatang, alam semesta, bahkan iblis sekalipun.Ketika Allah hendak menciptakan manusia, Dia berdialog dengan malaikat. Dialog ini diabadikan dalam surat al-Baqarah ayat 30-32. Dialog Allah dan iblis boleh dibaca di surat Shad 73-78. Ketika iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam, Allah masih bertanya alasan iblis. Padahal, Allah Mahatahu dan pasti mengetahui alasan iblis walaupun tanpa bertanya. Meskipun iblis bersalah, masih diberi kesempatan untuk memberi alasan: ada hak jawab. Oleh karena itu, siapapun yang menutup pintu dialog dengan atau tanpa alasan, telah menganggap dirinya lebih dari Tuhan.

Syekh al-Azhar masa ini, Dr Sayyid Tanthawi dalam bukunya, Adabul Hiwar (Tatakrama Dialog) menegaskan bahwa Alquran adalah ”kitab dialogis”. Hal ini dibuktikan majority ayat Alquran merakam pertanyaan-pertanyaan umat, sekaligus memberikan respon jawaban. Oleh karena itulah, menurut Syekh al-Azhar ini, kita mesti dialog dan perlu. Di samping agama kita memerintahkan hal itu, dialog juga sebagai jaminan keberlangsungan kehidupan sosial. Seseorang tidak boleh hidup sendiri, dia memerlukan masyarakat. Untuk itu dia perlu dialog dan bersosialisasi. Dalam masyarakat juga, setiap individu memiliki kepentingan berbeza-beza dengan individu yang lain. Supaya tidak saling bersilih-faham dan berkonflik, maka perlu dialog.

Dalam konteks ini, kita menerima landasan dialog (al-hiwar). Kita menolak idea perbezaan, dan konfrontasi (al-shidam, wal muwajahah). Seorang intelektual Koptik, Milad Hanna, dalam bukunya Qabulul Akhar (Menyongsong yang Lain), menolak keras tesis Karl Marx dan Samuel Huntington yang mengadaptasi idea konflik (conflict) dan perbezaan (clash). Dialog merupakan pintu untuk memahami perbezaan-perbezaan yang ada dalam masyarakat, kemudian dilanjutkan pada proses penerimaan.

Dalam konsep yang sederhana, menerima perzedaan bukan bererti melebur perbezaan-perbezaan itu, Tapi menerima hak untuk berbeza, kerana perbezaan dan keragaman merupakan kehendak Allah yang tidak boleh diingkari. Sedangkan dialog sebagai manifestasi untuk menjaga dan merawat kemajmukan itu. Dialog di sini bererti saling menghormati dan mengakui masing-masing kesalahan.

Namun lebih dari itu, dialog yang kita inginkan adalah dialog yang aktif dan membuahkan, bukan dialog pasif dan mandul. Model dialog yang pasif, biasanya ”dialog yang acuh tak acuh”. Berdialog, tapi masih dihantui ketegangan, dan kecurigaan. Sedangkan dialog yang aktif dan berbuah adalah model dialog yang disebut "dialektik-dialogis" (al-hiwar al-jadali). Dialog yang melintasi perbezaan-perbezaan menuju persamaan. Dialog yang aktif mencari common platform dan common denominator. Jika dialog pasif hanya terpaku pada pengakuan terhadap pluralitas. Sedangkan dialog yang aktif tidak hanya berhenti pada landasan itu. Tapi, aktiviti untuk terus-menerus mencari pertemuan dan persamaan dari pluralitas tersebut. Inilah semangat pluralisme. Bukan keragaman dalam perbezaan (al-tanawwu’ fi al-ikhtilaf) tapi keragaman dalam lingkup keseragaman/persatuan (al-tanawwu’ fi ithar al-wihdah). Lebih penting lagi, kita perlu komitmen yang kuat untuk menjadikan dialog sebagai tradisi dan identity. Apapun perbezaan yang ada, kita boleh memahami dan menerimanya, sejauh komitmen kita untuk terus berdialog.

Petikan ini Diambil Dari Karangan (Mohamad Guntur Romli)

Islam Liberal..??

Sunday, September 18th, 2005

Jilfront

1.What is Liberal Islam?

Liberal Islam (LI) is a new interpretation form of the Islam religion with the insights:

a. The openness of ijtihad’s gates in the entire aspects.

LI believes that ijtihad (the rational thinking of Islamic texts) is the main tenet that enables Islam to hold out through any seasons. Any locking of ijtihad gates, partially or even entirely, is a threat upon Islam itself. Since in this way, Islam would be rotten. LI believes that ijtihad could be held almost in every aspect, within ilahiyyat (theology), ubudiyyat (ritual), or (especially) muamalat (social interaction). ijtihad’s space in ubudiyyat is exactly slighter than the other two aspects.

b. Emphasize on the ethical- religious spirit, not the literal meaning of the text.

Ijtihad that developed by LI is an endeavor of Islam’s interpretation based on the ethical-religious spirit of the Qur’an and the Sunnah, not merely interpreting Islam based on the literal meaning of the text. The literal kind of interpretation would only "kill" Islam. Only by using the ethical-religious spirit based interpretation, Islam would live and grow creatively associated to the universal "humanistic civilization".

c. The relative, open, and plural truth.

LI based on the notion vis-à-vis "truth" (in religious interpretation) as a relative thing, since an interpretation is "human activity " which is shackled in a certain context; open, since each form of interpretation contain an erroneous possibility, instead of a correct one; plural, since each religious interpretation, in one and other way, is a reflection of any interpreter’s need in an incessantly changes of time and places.

d. Stand behind the minorities and the oppressed.

LI stands behind Islamic interpretations that withstand on minorities, oppressed, and marginalized. Every social-political structure that preserves injustice practices upon the minorities is against the spirit of Islam. In this context, minority should be understood in the wider meaning, including the religious minority, ethnic, race, culture, politic, economic, sexual orientation, etc. Gender equality is a problem that we concern of, since our social structure is still based on the patriarchal idea which against the justice idea in Islam. We consider any religious interpretations that do not concern on the gender equality is inappropriate with the justice principle of Islam.

e. Freedom of belief and faith.

LI considers that the matter of "being religious" or "being not religious" is a personal rights that should be protected. LI does not abide any prosecution on the base of an opinion or belief.

f. The separation of ukhrawi (heavenly) vis-à-vis duniawi (worldly) authority, and the religious vis-à-vis political authority.

LI believes in the very nature of separation between religious power and political one. LI does not withstand any notion regarding the religious state whereas the authority of ulama (religious leader) or kiai (Javanese-Indonesian term of religious leader) is observed as the highest authorities that could not be wrong. The healthy form of state for the religious and political growth is a state where both authorities are separated. Religion is an inspirational source that could influence public policies, but religion is not the one and the only source that have transcendental privilege that could not be denied to determine all public policies form. Finally, religion works on private and individual spaces. Public affairs should be held trough "collective ijtihad" process, where everyone can debate, where every truth is determined inductively through the fit and proper test of vision.

2. Why named as Liberal Islam?

The name of "Liberal Islam" illustrate our fundamental principles; Islam which emphasizes on "private liberties" (according to Mu’tazilah’s doctrine regarding "human liberties"), and "liberation" of socio-political structure from the unhealthy and oppressing domination. The "liberal" adjective has two meanings: "liberty" (being liberal) and "liberating". Please note that we do not believe in Islam as such—Islam without any adjective as some people argued. Islam is impossible without adjective, in fact Islam have been interpreted in so many different ways in accordance to the interpreter’s need. We choose a genre of interpretation, and by this way, we selected an adjective for Islam, it is "liberal".

3. What is this Network’s major mission?

Our missions are:
1. Develop the liberal Islamic interpretations that are appropriate to our principles, and disseminate it to as many people as possible.
2. Attempt to create dialogue rooms that are open and free from any pressures of conservatism. Only by the availability of open rooms for dialogues, the thought and Islamic action improvement could be well preserved.
3. Endeavor the formation of a fair and humanely social and political structure. We believe that the democratic system is a system that "in the very now" can accomplish those needs. In capitalism, we believe that there are some policies could be supported, and criticize some of its aspects as well.

Islam kah Ahmad Dhani(Dewa)?

Thursday, September 15th, 2005

Tersengih aku semalam apabila membaca sebuah artikel di Berita Harian(14/9)bertajuk "album DEWA dikhuatiri pesong akhidah" kiriman Muhamadiah dari Kulai,Johor.Didalam artikel tersebut penulis menyatakan kebimbangan pengaruh lagu Dewa ke dalam masyarakat kita kerana beberapa perkara seperti berikut:

1) Ahmad Dhani selaku ketua Kumpula Dewa begitu menyanjungi ahli-ahli sufi seperti al-Hallaj, Rabiatul Adawiyah, Jalaluddin al- Rumi dan Kadir al -jeilani.Pada pandangan penulis, fahaman-fahaman yg dibawa oleh para sufi ini bertentangan dengan akidah ahli Sunnah-Waljamaah.

2) Mesej "Wahdatul Wujud" yg dinyatakan didalam lagu "satu".."Aku ini adalah dirimu,cinta ini adalah cintamu.." dikatakan terpesong kerana pada pandangan penulis sbg manusia,hamba yg hina tidak seharusnya bersekutu dgn Tuhan yg maha sempurna.

3) Simbol bintang yang digunakan didalam album"leskar Cinta" menyerupai simbol bintang Yahudi.

Setelah membaca, ingin saja aku menghantar balasan bagi artikel diatas ke berita harian, tetapi setelah berdiskusi dan menanyakan pendapat rakan-rakan, aku merasakan isu yg dibawa oleh penulis tersebut adalah remeh serta leceh kerana ternyata sekali hujah-hujah serta fahaman yg diutarakan adalah lemah. Lalu, terlintas aku untuk menulis di dlm blog ini bagi memberi reaksi serta pandangan aku mengenai isu ini.

Pada pandangan aku, apabila penulis menyatakan  al-Hallaj, Rabiatul Adawiyah, Jalaluddin al- Rumi dan Kadir al -jeilani sebagai pembawa fahaman yg sesat dan menyesongkan akidah para sunnah- waljamaah ternyata pemahaman penulis terhadap para-para sufi ini adalah cetek sekali hingga boleh melabelkan mereka sbg sesat.Aku tidak mahu melebarkan perbincangan mengenai ini kerana sudah jelas melalui kajian-kajian serta perdebatan yg dilakukan oleh para ulama’ menunjukkan para karyawan agung tersebut tidak sesat.

Mengenai mesej "Wahdatul Wujud" yg dinyatakan didalam lagu "satu" yg dikatakan memesongkan akhidah ternyata penulis perlu lebih memahami,mendalami dan mengkaji tentang konsep yg dikatakan. Pada hemat aku, tidak salah apabila dlm lirik lagu "satu" menyatakan "Aku ini adalah dirimu,cinta ini adalah cintamu..takkan ada yg lain..selain Diri-Mu..". Ini kerana "aku ini adalah dirimu" tidak bermaksud "aku ini tuhan".Jika tidak didalami maksud yg dibawa ayat tersebut(just take it literally) maka seseorang spt penulis akan menyatakan ini sesat.Pada aku,"aku ini adalah dirimu"..membawa erti yang manusia ini adalah ciptaan tuhan.Darah, mata, kaki, tangan, telinga dan sebagainya dijadikan oleh tuhan yg Esa.Melalui diri kita ini,kita boleh mencapai ketauhidan bahawa tuhan itu wujud serta maha satu.Jadi, segala yg terdapat pd diri kita ini boleh menjadi "linkage" terhadap kepercayaan kpd kewujudan Tuhan yg Maha Esa.

Pandangan aku terhadap isu lambang bintang yg digunakan oleh Album Dewa(leskar Cinta) menyerupai lambang bintang Yahudi ternyata ini amat tidak berasas sekali. Secara simple boleh diterangkan bahawa bintang yg digunakan oleh Dewa berbucu 8, manakala bintang digunakan Yahudi berbucu 6.Mungkin penulis tersalah tgk atau melihatnya sekali imbas shj lantas trus melabel ianya sama kedua2nya.Dewa_laskarcinta Israelflag

Tetapi bagi aku, walaupun Dewa menggunakan lambang yg sama dgn kaum Yahudi sekalipon, ini tidak menjadi masalah kerana lambang ini digunakan oleh Nabi Musa.Adakah haram bagi kita umat Islam menggunakan lambang /simbol yg diguna oleh nabi2 terdahulu?Hanya kerana ianya digunakan oleh kaum Yahudi selama ini,maka haram bagi kita umat Islam untuk memakainya?

Pada aku lagi, tidak salah untuk kita menggunakanya lebih2 lagi jika ianya dapat mendekatkan kita dgn Allah ataupun digunakan sebagai alat seni yg tidak membawa maksud apa2 dari segi keagamaan.

Mengapa ada segelintir orang yg lantang menyatakan bahawa Dewa terutamanya penerajunya Ahmad Dhani ini sesat malah melabelkannya sebagai Kafir dan juga agen kepada Yahudi?Alasan yg mereka berikan adalah seperti perkara2 leceh telah yg diterangkan diatas. Mengapa mereka tidak melihat kebaikan2 yg telah dibawa oleh personel2 Dewa terutama nya msg2 cinta-mencintai sesama manusia, alam ini dan terbaru cinta kita terhadap Allah tuhan yg satu.Adakah msg2 yg dibawa oleh mereka ini juga tidak baik malah menyesatkan? berapa ramai manusia yg telah dapat menerima dan menghayati msg2 cinta yg dibawa oleh Dewa?Aku dan rakan2 aku ternyata sekali menerima kesan yg begitu tinggi apabila mendgr msg2 yg disampaikan dan hasilnya kami lebih mencintai diri sendiri, org lain, alam ini, serta yg paling utama kpd Tuhan yg Esa.

Sbg contoh, apakah ketika memberikan sumbangan terhadap mangsa banjir di indonesia pada tahun 2002 menjadi perbualan? ternyata tidak ramai yg membicarakannya jauh sekali mahu memuji..ataupon ketika mereka mengadakan konsert di Hard Rock Cafe pada 14 feb 02 di jakarta dgn tidak mengenakan apa2 bayaran juga tidak mendapat tanggapan apa-apa.Jahatkah Dewa itu apabila mereka menganjurkan konsert bertajuk "mencari cinta lewat musik" pd 28/6/02 yg lalu bagi mengumpul wang untuk merawat penyanyi jazz top indonesia, Bill Saragih?Dewafashion02_1

Hmm,memang jika orang melakukan tindakan baik pastilah tidak ada yang membahaskannya, tetapi jika ada yg cacat sedikit,pasti saja sudah menjadi heboh.. - AFMA -

Janji Joni..Beratnya Perjuangan Pengantar Film

Friday, September 9th, 2005

Selama ini, orang menonton film sekadar mencari hiburan. Mereka tinggal datang, antre karcis, masuk gedung, duduk manis, dan menikmati sajian. Tetapi, tahukah mereka perjuangan berat saat pembuatan film itu? Perjuangan seorang pengantar rol film yang harus berkeliling dari satu bioskop ke bioskop lain. Pengantar rol film inilah penentu bisa tidaknya sebuah film itu dinikmati oleh masyarakat.
Tema inilah yang diangkat dalam Janji Joni, karya teranyar sutradara muda, Joko Anwar. Joko ingin berbagi cerita bahwa di balik pembuatan sebuah film, ada beberapa orang di belakang layar yang punya jasa cukup besar, tetapi sering dilupakan orang.

Tokoh utama film ini adalah Joni (Nicholas Saputra), seorang pengantar rol film. Dalam menjalankan tugasnya, Joni berjanji pada dirinya sendiri untuk tepat waktu saat mengantarkan film. Dia tidak ingin penonton menyaksikan tulisan "MOHON MAAF, TUNGGU FILM" di layar lebar begitu lama.

Joni selalu berpikir bahwa selama dia bisa mendedikasikan hidupnya untuk suatu pekerjaan, dia tidak perlu terganggu dengan kenyataan bahwa dia belum pernah punya pacar. Tapi suatu hari, keadaan berubah.

Suatu hari, Joni sedang melaksanakan tugasnya saat dia melihat seorang gadis yang sangat cantik mengantre tiket. Si gadis bersama pacarnya yang terlihat sangat arogan. Joni jatuh hati pada pandangan pertama.

Saat Joni mengajak gadis itu berkenalan, gadis itu malah menantang Joni. Bila Joni bisa mengantarkan film yang akan ditontonnya tepat waktu, baru dia akan memberitahu Joni namanya.

Joni mengira hal itu adalah sesuatu yang sangat mudah. Salah besar! Saat mengantarkan rol terakhir, petualangan terberat Joni dimulai. Berbagai kesialan datang menimpanya. Mulai kecurian motor, menolong ibu hamil, sampai kecurian tas berisi rol film terakhir yang harus diantarkannya!

Dengan sekuat tenaga, Joni memenuhi janjinya agar bisa mendapatkan nama gadis yang ditemuinya di bioskop. Tapi, akhirnya Joni terlambat. Film sudah putus dan semua penonton pulang. Joni kecewa berat. Dia telah mengecewakan banyak orang. Lebih dari itu, dia telah kehilangan kesempatan untuk bisa bersama gadis itu. Kalau saja dia tidak membantu kakek buta, kalau saja dia tidak menolong ibu hamil, kalau saja?

Apakah perjuangan Joni sia-sia? Jawabannya ada bisa disaksikan di bioskop-bioskop mulai April 2005. Itulah sekelumit cerita film baru yang akan mulai syuting besok pagi ini. Joko Anwar sang sutradara mengaku ide cerita Janji Joni didapatkannya sewaktu kuliah di Bandung. "Saat saya nonton sebuah film di bioskop, filmnya sering putus di tengah-tengah. Lalu, di layar muncul tulisan "MOHON MAAF, TUNGGU FILM". Hal ini sangat mengganggu saya karena membuyarkan ilusi film. Karena terlalu sering mengalami hal itu, timbul keingintahuan saya tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik proyektor," terang mantan wartawan sebuah koran terbitan ibu kota ini.

Akhirnya, Joko tahu bahwa satu bioskop berbagi kopi film dengan bioskop lain. Saat itulah dia menyadari begitu besarnya peran seorang pengantar rol film. Setelah ngobrol dengan beberapa pengantar rol film, Joko punya ide untuk menuangkannya ke dalam skrip film. Skrip itu dibawanya kepada Nia diNata. Ternyata, Nia menanggapinya dengan sangat positif. "Saya tak menyangka masih ada penulis di Indonesia yang memperhatikan hal semacam ini. Jadi begitu saya baca skripnya, saya langsung bilang oke," ujar Nia.

Dalam film ini, Nicholas Saputra ditunjuk sebagai pemeran Joni. Menurut Nia, produser film ini, sosok Nicholas dirasa sangat pas untuk memerankan Joni. Awalnya, Nia dan kru film ini harus berusaha keras untuk membangun karakter Joni pada diri Nicholas.

"Soalnya, skrip ini diberikan begitu Nico selesai syuting Soe Hok Gie. Nah, kita langsung minta dia gondrongin rambut, gemukin badan. Untungnya, Nico sanggup melakukannya," terang Nia.

Nico pun sangat antuasias dengan peran barunya. Menurutnya perannya di film ini sangat lain dengan peran-perannya sebelumnya. "Pokoknya beda banget. Waktu jadi Rangga aku jadi cowok cool, di Soe Hok Gie jadi aktivis. Kalau di sini (Janji Joni, Red), jadi cowok yang agak-agak konyol," urai Nico.

Ia mengaku tak kesulitan dalam mendalami karakter. Sebab, reading yang dilakukannya cukup banyak memberinya masukan dan pandangan tentang siapa Joni. Sedangkan bagi Mariana Renata, pemeran tokoh Dessy, Janji Joni adalah film layar lebar pertamanya. Sebelumnya, Mariana dikenal sebagai bintang iklan sabun. "Ini pengalaman pertamaku dan aku sudah nggak sabar untuk segera berakting," kata Mariana.

Lain halnya dengan Rachel Maryam. Di film ini, Rachel (lagi-lagi) mendapat slot sebagai pemeran pembantu. Namun, Rachel sangat senang. Dia tidak melihat perannya sebagai apa. Tetapi, lebih melihat pendalaman bakat aktingnya.

"Bagiku sih nggak masalah mau jadi pemeran pembantu atau pemeran utama. Yang penting adalah bagaimana akting kita dan bagaimana film itu sendiri. Biar hanya pemeran pembantu, aku tetap total akting kok," cetusnya.

In memory..”Geovanni Falcone”

Tuesday, September 6th, 2005

"One dies generally because one is alone or because

one gets involved in a game which is too big.

One dies often because one does not have the necessary alliances at one’s disposal,

because one is without support.

In Sicily the Mafia targets those who are loyal to the State,

those whom the State has not been able to protect."

- Geovanni Falcone -

Untitled_2

born on 18 of May 1939, was an Italian judge who specialised in prosecuting mafia crimes.

His life story is quite similar to that of his closest friend Paolo Borsellino. Both shared provenance from a rather poor zone of Palermo, careers as Anti-mafia judges, and equally sad fates: both were killed (only 20 days apart) in particularly cruel massacres.

Falcone was killed with his wife (herself a judge) and bodyguards in Capaci, on the motorway between Palermo International Airport and the city of Palermo on May 23, 1992. The car in which he was travelling was exploded by a tremendous bomb that had been placed under the asphalt of the road. When passing over the bomb, Falcone was driving his car at an estimated speed of 160 km/h, nearly 100 mph.

It is supposed his murder was ordered by Totò Riina, though - like his friend’s murder - many other people gained criminal advantages from his death.

Palermo airport is now also known by the name Falcone-Borsellino Airport in honour of Falcone and his friend Paolo Borsellino, a judge also murdered for his anti-mafia activities.

The Mafia In America “The Gambino Family”

Tuesday, September 6th, 2005

In the late 1920s, the boss of the gang that would come to be known as the Gambino Family was Al Mineo, one of Joe "The Boss" Masseria’s strong supporters in the Castellammarese War. Unfortunately for Mineo, he was one of Masseria’s supporters that was killed in 1930, leading to Masseria’s downfall.

Scalise_1 A capo in the gang, Frank Scalise (left), was made boss after Mineo. Scalise had joined forces with Maranzano earlier in the war, but when Charles "Lucky" Luciano had Maranzano killed, Scalise was thought to be too close to Maranzano. Mangano  Scalise’s gang did not want a war with Luciano, so Scalise was persuaded to step down, and Vince Mangano was elected boss. Mangano (left) had also switched to Maranzano’s side during the war, but he was seen as a better choice than Scalise. Mangano was one of the seven original members of the Commission. In fact, he served as chairman, probably due to the fact that his Family was the largest of the seven. Mangano chose the notorious Albert Anastasia as his underboss.

Thomas Dewey, the District Attorney and a famous mob buster, posed a threat to the mob. In the 1930s, Anastasia suggested to kill Dewey. This was against La Cosa Nostra rules, so Mangano shot down Anastasia’s suggestion, embarassing him. In 1951, Mangano disappeared and his brother’s body was found. Anastasia (below) took over position of boss. Gambino 

Anastasia was closely allied with Frank Costello, the Genovese boss. This had been a powerful alliance, but it turned out to be a two-edged sword. Vito Genovese had been plotting with Tommy Lucchese and Anastasia’s underboss, Carlo Gambino (below left). Their objective: take out both Costello and Anastasia leaving Genovese in Costello’s position as boss of his Family and Gambino in Anastasia’s position as boss of his Family. Anastasia2 

Anastasiahit In May 1957, Costello was shot and wounded by Vincent "The Chin" Gigante (belowleft) and quickly decided to retire. This left Anastasia without his ally. In June 1957, Frank Scalise (former boss but now Anastasia’s underboss) was gunned down. This scene was recreated in the movie The Godfather. Gigante  To complete the plot, in October 1957, Anastasia was killed in a barbershop (Gambino right). Gambino became boss.

Three years later, Lucchese, Genovese, and Gambino began plotting against Joe Bonanno and Joe Profaci, the bosses of the other two New York Families. Profaci died of cancer leaving Joe Magliocco as the new boss, but he failed to unite the Family. Bonanno and Magliocco plotted the murders of Gambino and Lucchese, but their plan was discovered. Magliocco eventually died, and Bonanno lost his power.

Three years later, Lucchese, Genovese, and Gambino began plotting against Joe Bonanno and Joe Profaci, the bosses of the other two New York Families. Profaci died of cancer leaving Joe Magliocco as the new boss, but he failed to unite the Family. Bonanno and Magliocco plotted the murders of Gambino and Lucchese, but their plan was discovered. Magliocco eventually died, and Bonanno lost his power.

In 1967, Lucchese died, leaving Gambino as the most powerful boss on the Commission, to say the least. Gambino controlled his own Family, plus the other four bosses sought to appease him. Joe Colombo, boss of Profaci’s old Family, attempted to start some disagreement, but a lone assassain killed him. His killer was then killed at the scene, so his motives were never discovered.

Castellano In 1976, Gambino’s poor health led him to choose a replacement. He chose Big Paul Castellano (left) over his underboss, Aniello Dellacroce. Dellacroce accepted this in true La Cosa Nostra fashion. Actually, by now, it must appear that this was not La Cosa Nostra fashion. Anyway, Castellano reigned for the next 9 years, but in 1985, he was gunned down (below left) outside Sparks Steak House in Manhattan amid the hustle and bustle of Christmas shoppers. Castellanohit

Gottimug Some of the crews that reported to Dellacroce suggested that Big Paul thought of himself as a businessman more than a gangster and was selling the Family out. He was no longer in touch with what happened on the streets and ran his construction businesses from his isolated mansion. This led to feelings of ill will by some crews. In addition, a ruthless capo named John Gotti (above left) was beginning to feel that he and his crew were in danger due to some government tapes that revealed their heroin dealing. Castellano was a supporter of Gambino’s rule that drug dealers would be punished with death. To make matters worse, Castellano did not like Gotti, and Dellacroce, who did like Gotti, was dying. When Dellacroce died, Gotti knew he had to put a rush on his plans. Gotti brought other Family members into his scheme, including a powerful soldier named Salvatore "Sammy the Bull" Gravano and his crew. He also obtained unofficial approval from the Lucchese, Bonanno, and Colombo Families. Castellano was killed — Gotti

Aja Aja Fighting !

Monday, September 5th, 2005

Fh_02 It seems that Full House fever is not yet over :D … for those die-hard fans of the series, if you wish to watch xtra clips on interview, behind the scenes, NGs etc, feel free to copy + paste + click on the below URLs.

FULL HOUSE…Making Film, Interviews, TV clips, NG cuts

mms://211.106.66.141/moretv/entertainment/dra_full01.asf
to
mms://211.106.66.141/moretv/entertainment/dra_full23.asf

mms://211.106.66.141/moretv/drama/2tv/dra_full/data/data01_m.asf
to
mms://211.106.66.141/moretv/drama/2tv/dra_full/data/data14_m.asf

mms://211.106.66.141/moretv/drama/2tv/dra_full/ng/ng01_m.asf
to
mms://211.106.66.141/moretv/drama/2tv/dra_full/ng/ng44_m.asf

maksud to tu tukar no hujung sekali kat link tu dari no 1 hinggalah ke nombor2 seterusnya… ada byk clips tu… ada 23 + 14 + 44

ENJOY!!