Archive for May, 2006

Pentingnya Pembaruan Islam

Sunday, May 28th, 2006

Thomas L. Friedman, kolumnis terkenal asal Amerika, misalnya, menulis sebuah artikel menarik di New York Times, berjudul “An Islamic Reformation” (4/12/02). Menurutnya, pembaruan Islam adalah sebuah keharusan bagi kaum muslim sekarang ini, karena perang terhadap terorisme dan radikalisme akan percuma tanpa diikuti perbaikan dari dalam kaum muslim sendiri.

Dalam Islam sendiri, pembaruan bukanlah sesuatu yang baru dan sama sekali bukanlah agenda yang diciptakan oleh Amerika. Ia sudah ada sekurangnya sejak abad ke-19,  ketika para pembaru Islam seperti Jamal al-Din al-Afghani(w. 1897) dan Muhammad Abduh (w. 1905) memulai gerakan ini di Mesir. Pada saat itu, agenda utama Reformasi Islam adalah membebaskan kaum mslim dari pemahaman agama yang sempit dan kaku.

Sejak abad ke-15, secara intelektual kaum muslim mengalami kemunduran serius. Berbeda secara diametris dengan orang-orang Eropa yang memulai masa kebangkitan dan pencerahan, kaum muslim sejak abad itu memulai tidur panjang dalam keterbelakangan dan kebodohan. Beberapa kerajaan Islam yang muncul selama masa ini -seperti Usmaniyah di Turki dan Moghul di India- hanya mampu memproduksi alat-alat perang dan sedikit seni arsitektur. Tidak ada pencapaian intelektual yang berarti selama periode itu.

Para pembaru Islam menyadari akan kondisi tersebut, dan atas dasar itulah mereka memulai gerakan pembaruan Islam, sebuah agenda yang sampai kini masih terus berlanjut.

Kaum muslim harus tetap menjalankan agenda Reformasi Islam, untuk kebaikan diri mereka sendiri. Bahwa agenda itu kemudian mendapat dukungan dari Amerika dan negara-negara Barat, ini bukanlah sesuatu yang harus ditolak dan dicemooh, tapi justru harus disyukuri dan disambut baik. Para pembaru Islam memiliki kesamaan pandangan dengan negara-negara Barat karena mereka memang memiliki landasan berpikir yang sama, yakni tentang kemajuan, persamaan, toleransi, dan penghormatan kepada hak-hak dasar manusia.1_6

Jika selama ini kita berbicara tentang dialog dan kerjasama dengan Barat, maka inilah saat yang tepat untuk melakukan dialog dan kerjasama itu. Negara-negara Barat memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi kejumudan, keterbelakangan, dan fanatisme agama. Sudah sewajarnya kaum Muslim belajar dari pengalaman mereka.

Musuh bersama umat beragama saat ini adalah otoritarianisme penafsiran terhadap ajaran-ajaran agama. Lembaga-lembaga agama yang otoriter, yang merasa benar sendiri, adalah musuh bagi kebebasan beragama. Kekerasan agama tidak dimulai dari Osama bin Laden atau Dr. Azahari, tapi dari ajaran-ajaran intoleran yang bibit-bibitnya disemai oleh para otoritas agama yang otoriter. Jihad

Pada akhirnya, semuanya terpulang kepada kaum muslim sendiri, apakah mereka tetap ingin memelihara pemikiran-pemikiran sempit yang berujung pada kekerasan agama dan terorisme, ataukah mereka ingin melanjutkan pembaruan Islam, sebuah agenda luhur yang telah disemai sejak abad ke-19.

*Diambil dari artikel oleh Luthfi Assyaukanie dan diterbitkan oleh sebuah laman web terkemuka di Indonesia.

Falsafah perundangan Islam

Friday, May 26th, 2006

Falsafah perundangan Islam

SETIAP sistem perundangan mempunyai dasar falsafahnya. Dasar falsafah perundangan Islam adalah al-Quran, sunah Rasulullah s.a.w., hadis Rasulullah dan ijtihad para alim ulama Islam berdasarkan atas akal.

Jangan kita jijik pada perkataan akal, seolah-olah akal bertentangan dengan wahyu. Akallah yang membedakan hadis palsu dari hadis benar, sunah palsu dari sunah benar, tafsir salah dari tafsir benar, fikiran maju dari fikiran buntu, pendapat sesat dari pendapat tepat, kupasan mendalam dari kupasan cetek, fikiran gigih dari fikiran lembap, dan ucapan merendah diri dari ucapan angkuh.

Semua sifat yang di atas, yang baik dan yang buruk, terdapat di semua lapisan masyarakat Islam dalam semua zaman termasuk daripada kalangan mereka yang berkecimpung dalam hal-hal agama.

Dalam kitab yang banyak digunakan dalam pendidikan fikah mazhab Syafie, Umdat al-Salik oleh Ahmad bin Naqib al-Misri (meninggal 769 Hijrah/1368 Masihi) terdapat petunjuk jangan menangis selepas seorang itu meninggal. Kalau hendak menangis, sebelum orang itu meninggal. Syeikh Umar Barakat (meninggal 1307 Hijrah, 1890 Masihi) seorang alim dari Syria didikan Al-Azhar memberi komen, sebabnya Nabi Muhammad s.a.w. menangis sebelum puteranya yang masih kecil, Ibrahim, meninggal dunia.

Macam mana kita golongkan pendapat ini yang dianggap perlu oleh pengarang Umdat al-Salik untuk dimasukkan ke alam hidup keislaman? Kita mesti gunakan akal. Nabi Muhammad melarang menjerit-jerit, menarik rambut dan memukul-mukul badan, mendengungkan laungan dalam tangisan kesedihan, bukan yang menangis bercucuran air mata. Tidak pula ditentukan sebelum atau sesudah seorang itu meninggal dunia.

Apakah masuk di akal bahawa Allah menganggap masalah ini sangat penting tetapi tidak disebut dalam Quran dan dibiarkan Syeikh Umar Barakat yang menampilkannya? Sepanjang pengetahuan saya, Nabi Muhammad tidak pernah menentukan waktu menangis sebelum atau sesudah seorang itu meninggal.

Masa mula menangis tiada kaitan dengan apa-apa masalah hidup. Sayang saya tidak dapat menanya Syeikh Umar Barakat telah mengalami sedih kematian atau tidak dan jika pernah apa yang dibuatnya?

Bagi saya persoalan ini macam hendak menentukan buang air besar, sebelum atau sesudah makan. Kalau kita disekat tidak boleh buang air sebelum makan lambat-laun perut kita akan berantak dan membuang air bila-bila masa sahaja. Banyak lagi masalah titik-bengik yang bertaburan dalam kitab-kitab fikah dari masa dahulu hingga sekarang serta pendapat-pendapat ganjil yang sesetengahnya penyeludup ke dalam kitab-kitab fikah. Ada yang mempengaruhi perundangan syariah seperti pendapat bahawa waktu hamil paling sedikit enam bulan dan paling lama empat tahun (lihat Umdat al-Salik seksyen Iddah dalam bahagian Kitabul Talaq).

Atas tanggapan ini dibuat hukum jika suami meninggal dalam masa idah, isteri mesti menunggu empat tahun jika tidak melahirkan anak, sebelum kahwin lagi kerana masa empat tahun tidak melahirkan anak dianggap masih ada kemungkinan hamil. Ini pendapat mazhab Syafie dan Hambali. Mazhab Hanafi dua tahun dan mazhab Maliki lima tahun.

Tiga macam pendapat dari empat mazhab ini bertentangan dengan dasar falsafah perundangan Islam yang saya terangkan dari awal tadi, yakni ijtihad para alim ulama berdasarkan atas akal, lebih-lebih lagi mengenai masalah yang tidak ditentukan oleh al-Quran, hadis atau sunah Nabi atau ijma ulama. Yang dimaksudkan atas akal di sini adalah pendapat yang berdasarkan atas kejadian sebenarnya yang tidak dibuktikan dan berulang-ulang terjadi, bukan semata-mata pemikiran terapung-apung.

Baiknya mahkamah Syariah Islam sepanjang masa tidak menerima sah bukti yang terapung, tidak berdasarkan atas kenyataan sebenarnya. Marilah kita selidiki pendapat yang di atas tadi. Tidak terdapat dalam sejarah manusia satu bukti pun seorang wanita hamil antara dua dan lima tahun. Jangan kita seret peristiwa Nabi Isa lahir tanpa bapa. Ini dipercayai sebagai mukjizat bukan kejadian sehari-hari, tak ada kena-mengena dengan idah, tak ada kena-mengena dengan diakui sebagai anak bekas suami selepas masa lima tahun atau tidak.

Oleh kerana tidak ada bukti yang sah tentang hal ini dan banyak bukti yang sah tentang melahirkan anak antara enam hingga kurang lebih 12 bulan, maka inilah yang semestinya dijadikan dasar undang-undang Islam. Perhatikan pembuktian tentang zina yang sangat terperinci. Empat saksi itu mesti melihat sendiri hubungan persetubuhan antara pasangan zina tadi bukan sekadar berpeluk di bawah selimut.

Dasar pembuktian yang demikian ini langsung tidak dipakai dalam pembuktian melahirkan anak setelah dua sampai lima tahun hamil oleh seorang perempuan. Selain daripada itu, dasar ini akan mengacaukan perundangan kahwin syariah.

Bagaimana kalau seorang isteri yang tidak bercerai mengandung lima tahun dan enggan meneruskan persetubuhan dengan suami selama lima tahun itu? Kalau suami menceraikan isteri dengan alasan nusus, isteri pula membantah dengan alasan hamil tiga empat tahun. Beranikah kadi menceraikan isteri itu atas tuduhan nusus. Ingin saya mendengar pendapat Tuan Guru Nik Aziz yang cukup besar gudang fikahnya.

Sebelum diteruskan perbahasan ini, perlu saya ulangi di sini. Atas dasar ilmu sosiologi dan sejarah, saya yakin tentang perlunya masyarakat Islam mengatur hidupnya melalui mazhab-mazhab yang ada. Banyak juga pendapat yang baik dan berguna. Tetapi perlu diadakan penapisan semula, pemisahan yang benar dan salah, yang sesuai dengan Islam dan tidak, yang masuk di akal dan yang karut.

Di sini hanya yang salah dan karut dikemukakan untuk menekankan perlunya perubahan. Yang karut banyak tersiar dalam kitab-kitab fikah yang banyak dibaca. Belum lama ini saya dapat satu kitab tentang nikah kahwin, menyentuh tentang kafa’ah yakni perkahwinan setaraf. Di sini dibahas tentang anak daripada hubungan kelamin antara manusia dengan anjing. Ia najis walaupun berupa manusia. Ibn Hajar al-Haytami (lahir 1504 Masihi) berpendapat, walaupun anak itu najis dan tarafnya lebih rendah dari manusia, ia boleh dimaafkan dan sembahyangnya sah. Imam Ahmad al-Ramli pula menyatakan anak itu tidak najis.

Kedua-duanya bergelar imam bukan ahli fikah kedai kopi. Dibahaskan pula oleh beberapa ahli fikah tentang seorang manusia yang dilahirkan oleh pasangan binatang seperti lembu. Anaknya yang berupa manusia itu tidak najis dan boleh disembelih dan dimakan. Terdapat juga suatu cerita seorang khatib memimpin sembahyang di masa Hari Raya Haji. Setelah selesai sembahyang ia disembelih, sebagai binatang korban haji kerana ia lahir daripada binatang korban.

Pendapat-pendapat yang liar ini, ampungan karut-karut, masuk dalam gelanggang perbahasan ahli-ahli fikah yang dianggap sebagai imam fikah seperti Ibnu Hajar dan al-Ramli. Mereka ini dianggap alim besar di masa itu hingga sekarang di kalangan ahli fikah yang terkongkong daya pemikirannya dan melanggar dasar-dasar Islam seperti menyembelih khatib tadi walaupun lahir daripada haiwan tetapi ia manusia. Ini tiada dalam Quran. Maknanya Quran tidak lengkap. Quran dilengkapkan oleh mereka seperti Ibnu Hajar dan al-Ramli dan selainnya yang berpendirian demikian. Quran pula disalahkan kerana manusia dianggap hanya turunan Nabi Adam bukannya juga turunan lembu.1_4

Saya mohon maaf di sini kerana melibatkan Tuan Guru Nik Aziz. Percayakah beliau pada pendapat-pendapat karut ini yang mungkin saya tidak yakin, dianuti oleh banyak alim ulama terkemuka setaraf dengan Ibnu Hajar?

Dalam keluaran akhir Harakah, 16-28 Februari 2006, Tuan Guru Nik Aziz menyebut ayat Quran (surah Fatir ayat 28) yang mengatakan bahawa yang banyak gementar pada Allah hanyalah ulama. Apakah mereka itu ulama termasuk yang percaya pada hamil hingga lima tahun, manusia lahir dari haiwan, dari bapa anjing ibu manusia? Tidakkah istilah alim dalam Quran merangkupi ahli-ahli ilmu pengetahuan dalam semua bidang? Dan bidang inilah yang dapat menghalang ampungan pemikiran karut dari masa lampau. Hal ini dapat dibahaskan lebih terperinci dalam masa akan datang.

Jangan ditunggu durian runtuh

Rasa gelisah tiada terhingga;

Jangan diragu cita yang sungguh

Terus diasah hati yang bangga.

Oleh: PROF. DR. SYED HUSSEIN ALATAS

Kebebasan Berekspresi Di Tengah Konservatisme Agama

Tuesday, May 23rd, 2006

Bulan april yang lalu, satu diskusi bertema “Kebebasan Berekspresi Di Tengah Konservatisme Agama” telah diadakan di Radio 68H, Indonesia. Diskusi tersebut dianggotai oleh Abdul Moqsith Ghazali, aktivis Repro (Religious Reform Project), Hamid Basyaib, (Kordinator JIL) dan ketua KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), Ade Armando.Berikut merupakan antara isi-isi yang telah dibincangkan didalam diskusi tersebut:

Sebahagian besar orang salah memahami makna kebebasan. Apa yang perlu dilakukan ketika ini adalah menegaskan kembali makna kebebasan itu. Kebebasan seringkali diertikan sebagai kebebasan untuk melakukan apa pun tanpa ada aturan dan hukum. Orang yang memahami kebebasan seperti ini bolehlah dinilai sebagai sangat simplistik. Kebebasan berekspresi bukanlah kebebasan tanpa batas.

Di Amerika, meskipun memberikan kebebasan pada rakyatnya, tetapi tetap memberikan batasan-batasan dan sangat ketat dalam menegakkan hukum. Ini menunjukkan bahawa kebebasan berekspresi bukanlah kebebasan tanpa regulasi. Kebebasan berekspresi bukanlah suatu yang keliaran. Dalam kebebasan tentu ada tanggung jawab dan batasan. Batasan-batasan itu dituangkan dalam undang-undang, norma masyarakat dan sopan santun yang sudah dikenal. Tetapi batasan itu tentu saja terus berkembang mengikuti perubahan zaman, bukannya statik. Sayangnya, Islam kelihatannya takut pada kebebasan.1_3

Perlawanan terhadap kebebasan berekspresi merupakan bentuk ketidakfahaman masyarakat ke atas makna kebebasan. Kebebasan berekspresi hakikatnya diperlukan untuk kesejahteraan masyarakat luas dan pencarian kebenaran.

Apabila kebebasan berekspresi dihancurkan maka, paling tidak, berimplikasi pada tiga hal. Pertama, apabila ada pendapat yang benar, maka kita akan kehilangan kebenaran itu, kerana ia dibungkam. Kedua, apabila sebahagian pendapat itu salah, maka kita akan kehilangan sebahagian yang benar. Ketiga, apabila pendapat itu salah, maka kebenaran itu tidak akan ditemukan selamanya kerana kesempatan untuk mencari kebenaran itu dihancurkan.Oleh yang demikian, kebebasan berekspresi tetap harus diperjuangkan.

Keluar dari Islam sekarang*

Monday, May 22nd, 2006

Keluar dari Islam sekarang*

Fathi Aris Omar

A spectre is haunting the Europe – the spectre of communism. All powers of old Europe have entered into a holy alliance to exorcise this spectre: Pope and Tsar, Metternich and Guizot, French Radicals and German police-spies” – Karl Marx dan Frederick Engels dalam Communist manifesto (1848)

Tradisi boleh menjadi berhala – suara ‘kebenaran’ yang dikuduskan sebagai tidak boleh dipertikaikan lagi. Campur tangan manusia dalam tafsir agama akhirnya ghaib entah ke mana, semuanya diperkirakan sudah beres dan mantap. Semuanya abadi seakan-akan wahyu.

Tetapi tidak semua aktivis dan pemikir Islam melihat agama seperti ini. Ada Islam ‘yang lain’, yang belum tuntas, yang bermasalah, yang menyimpan kontradiksi dan paradoks, dengan realiti manusia hari ini. Wacana-wacana tradisi dijungkir balik, disemak dan dikritik. Agama diusung ke ‘bengkel idea’ atau ‘makmal wacana’. Proses ini boleh dianggap berfikir dengan niat ijtihad walau mungkin tidak seketat syarat-syarat berijtihad yang lazim difahami.

‘Mempermasalahkan Islam’ bukanlah ungkapan dan kegiatan yang disenangi di Malaysia atau di negara-negara yang konservatif. Di negara-negara konservatif ini, agama dianggap sudah selesai, hanya tunggu kuasa negara dan pelaksanaannya sahaja. Tiada tekad politik yang menyebabkan Islam gagal ditegakkan secara syumul (sepenuhnya) di sini.

Masalah Islam bukan kelemahan teori atau isu kecacatan idealisme tetapi halangan di ruang amali. Hanya menunggu masa untuk diterapkan sepenuhnya, atau perlahan-lahan, dalam kerangka Islamisasi negara dan birokrasinya. Inilah paradigma ‘Islam tanpa masalah’. Jika ada masalah-masalah baru, kontemporari, kita kembali kepada tradisi.

Jawapannya sudah tersedia ada di sini (tradisi) kerana khabarnya ‘agama itu telah disempurnakan’, yang akhirnya membiakkan campur aduk antara wahyu dengan akal manusia (tradisi). Kenapa ramai orang yang konservatif dan tradisionalis itu bersandar pada tradisi?

Bersembunyi di sebalik tradisi menyeronokkan dan memberi ‘rasa aman’, rasa ‘beres’ dan ‘selesai’. Sikap ini sesuai untuk dua jenis manusia sahaja: (a) jahil dan fanatik dengan masa silam, (b) malas membaca, mengkaji, berfikir dan berbahas ilmu-ilmu baru. Fikiran yang tidak bergerak atau tidak luas cedukan pengetahuannya akan berkubu di sini. Kedua-duanya (a) dan (b) saling mempengaruhi antara satu sama lain.

Tetapi, sekali lagi, sikap beragama popular seumpama ini di Malaysia tidak disepakati di negara-negara lain atau di kalangan beberapa kumpulan aktivis dan pemikir Islam di serata dunia Islam, termasuk di negara kita. Golongan ini percaya, idealisme dan fikih (kefahaman) agama sekarang memang ada masalah yang belum tuntas, enggan diselesaikan atau jawapan yang sedia (tradisi) kurang memuaskan – beginilah lantai berhujah aliran ‘Islam itu bermasalah’.

Sementara dalam paradigma ‘Islam tanpa masalah’ seperti di negara kita, agama dianggap mempunyai satu versi yang kukuh. Tradisi ilmunya mantap dan mengkagumkan. Islam tidak ada mazhab berfikir atau variasi (seolah-olah). Kenisbian pengalaman beragama tidak mungkin ada atau tradisi itu semuanya wahyu (kononnya), bukan mengandungi juga unsur-unsur produk akal dan produk budaya. Islam sentiasa homogen dan monolitik. Sekiranya ada perbezaan dalam isu-isu tertentu, semuanya itu isu ranting dan masih dalam kategori versi ‘Islam yang tunggal’ dan mutlak.

Oleh itu, umat Islam mesti diseragamkan dengan kefahaman ini. Tidak boleh ada sebarang pembaharuan atau idea lain. Tidak ada sisi lain agama, atau Islam ‘yang lain’ lagi. Semua baku dan piawai. Jika ada, harus diisytiharkan ‘sesat’ (kalaupun tidak murtad) dan diuar-uarkan mara bahaya ini, kononnya, kepada orang ramai.

Menganut paradigma ‘Islam tanpa masalah’ ini, atau sebut sahaja ‘Islam hitam putih’, mengundang masalah lain pula – ia pantang dicabar dan dipertikaikan. Ia sering dihantui jalur-jalur pelangi ragam tafsir yang rencam. Ia rimas mendengar riuhnya diskusi bersama simpang perenang idea di ‘makmal wacana’.

Aliran ‘Islam tanpa masalah’, walau mereka itu majoriti dan kukuh sekali hegemoninya, sentiasa berada dalam kebimbangan diasak oleh tafsir-tafsir tandingan (counter- discourse) walau kecil, di seberang laut atau belum tentu berpengaruh. Contoh paling klasik, kepercayaan Syiah (atau, di kalangan mereka yang lebih jahil, mazhab fekah selain Syafi’e) yang sering mengecohkan umat Islam negara kita.

Entah kerana cemburu, jahil atau taksub, mempertahankan kemapanan sesuatu tradisi rupa-rupanya capek sekali dan ‘tidak ekonomik’, ibarat mempertahankan sebuah empayar kekuasaan yang maha luas. Empayar blok komunis, misalnya. Kemapanan tradisi (atau birokrasi besar, bagi negara) ibarat gergasi yang lembam, gendut, malas, pasif dan mengantuk. Lalat yang berterbangan dianggap ‘musuh’ paling besar!

Islam di Malaysia, khususnya kerana sudah ‘capek’ sejak era kebangkitan 1970-an, telah bertukar wajah menjadi gergasi gendut ini. Ia sudah tidak dinamik dan tidak lagi berdaya saing (budaya dan akal). Ia tidak mampu regeneratif (tumbuh tunas lagi) – sebab itulah generasi muda mereka, termasuk anak-anak aktivis Islam generasi 1970-an, tidak lebih baik (malah, merosot!) daripada mereka sewaktu mula-mula mengusung idealisme ini.

Anak-anak muda yang menyertai arus Islam saat ini menjadi ‘tua’ sebelum masanya! Mereka cepat dogmatik dan fanatik, tidak mengkaji lagi dan tidak kritis sama sekali. Semuanya, di sisi generasi muda mereka, sudah beres. Bukan sahaja kefahaman Islam saat ini dianggap sudah mantap, malah cara bergerak dan budaya kelompok (dengan segala cacat celanya) dalam organisasi mereka juga dikira ‘sudah beres’.

Anak-anak muda hanya mengikut dan mewarisi apa-apa yang telah diterokai sejak tiga dasawarsa lalu, 1970-an. Baik atau buruk, maju atau mundur, lemah atau kuat – mereka ikut sahaja seperti seorang pekak dan buta. Apa lagi yang boleh dilakukan oleh generasi muda yang tidak kritis ini selain membenarkan hidung dicucuk?

Sebab itu, bahasa wacananya bahasa lama, tiada kosa-kosa kata baru muncul. Diulang tayang dan dikitar semula yang lama-lama itu kerana pemikiran kelompok sudah membeku. Cara berfikir baru, sisi baru melihat sesuatu (yang lama), pastilah membiakkan bahasa baru kerana paradigma baru tidak mungkin diungkapkan sepenuhnya dengan kosa-kosa kata lama yang mengendong konsep atau sisi pandang yang lama (sedia ada).

Lagipun, apakah orang muda ini tahu menilai perbezaan ‘yang lama’ dan ‘yang baru’ itu? Generasi muda rata-ratanya masih ‘mentah’ – soal ‘baru’ atau ‘lama’ bukan dalam kamus fikirannya. Kecuali digegerkan oleh mereka yang sudah berpengalaman dan jujur melihat realiti sekarang. Tetapi hal itu tidak mungkin disebarkan oleh orang-orang tua dalam gerakan ‘Islam tanpa masalah’ saat ini.

Lucu sekali, kerana sifat mengantuk dan lembam itu, aktivis-aktivis gerakan Islam malas mengiktiraf kelemahan asasi ini – masalah kebekuan dan kerendahan mutu generasi muda mereka sendiri.

Sebab paling utama, takungan ilmu dan budaya berfikir di pusat gerakan ini telah mulai cetek dan kering. Kesedaran agama makin meluas (hal ini mengkhayalkan mereka) tetapi kefahaman Islam kian dangkal dan tidak kompetitif (hal ini tidak disedari) – ibarat sapi yang diperah susunya setiap pagi tetapi tidak diternak dengan makanan berkhasiat.

Di saat ini, di saat gergasi gendut ini sedang mengantuk, tiba-tiba sekawan tebuan (bukan lagi seekor dua lalat) ‘Islam Liberal’ melintas laju di depannya. Mengkagetkan sekali apabila terdengar degungan sekawan tebuan itu – gergasi gendut pun tersentak dan ‘mengamuk’. Kebetulan ‘amuk’ itu memang sifatnya orang Melayu. Mereka bertanya sesama sendiri: “bagaimana sekarang? Islam kini mula dipermasalahkan lagi, sedang kita tidak pernah nampak agama ini ada apa-apa masalah?”

Mulai hari itu, PAS dan pertubuhan-pertubuhan Islam seperti Angkatan Belia Islam Malaysia (Abim) dan Pertubuhan Jamaah Islah Malaysia (JIM) menjadi ‘kurang waras’. Mereka terpinga-pinga seperti seseorang yang tiba-tiba dikejutkan daripada mimpi yang mengasyikkan.

Seorang pemimpin JIM memberi amaran akan datangnya “pendakwah-pendakwah di pintu neraka” untuk menggambarkan musuh baru mereka ini, ‘Islam Liberal’. Seorang pemimpin kanan Abim pula menganggap wacana pluralisme agama dari negara jiran kita sebagai usaha “menyenangkan Amerika Syarikat”. Seorang anak didiknya mencampur-adukkan ‘Islam Liberal’ dengan usaha “orientalisme” dan “agenda depolitisasi” (membuang unsur politik) pada agama.

PAS apatah lagi, ‘Islam Liberal’ ini digambarkan sebagai lanjutan usaha anti-agama sejak Kamal Attartuk menjatuhkan kerajaan buruk Turki Osmaniah, gerakan anti-hadis dan ‘Islam hadhari’ yang berkonspirasi dengan beberapa yayasan Jerman untuk menyuntik faham liberal di negara ini.

Dalam keadaan terpinga-pinga itu, wacana dan sikap mereka terhadap ‘Islam Liberal’ tidak mungkin adil, wajar dan berimbang. Berlaku adil itu sendiri nanti – walau sangat dianjurkan oleh Islam – akan membuka pekung di dada sendiri. Jika terbongkar sekelumit kebenaran daripada wacana ‘Islam Liberal’ yang mereka perangi habis-habisan itu, maka akan terburai pula satu persatu kepalsuan paradigma mereka.

Penyokong mereka, generasi muda mereka, pasti akan goncang keyakinan – “oh, rupa-rupanya Islam itu belum beres, masih ada isu dan persoalan belum selesai.” Kotak Pandora ini, marilah kita kunci ketat-ketat dan diam-diam.

Inilah padah kepada mereka yang berselingkuh dengan propaganda selapis tentang agama, dengan nilai hidup beragama di Malaysia yang konservatif, tradisional dan tidak demokratik. Inilah padah apabila takungan pemikiran di pusat gerakan-gerakan Islam Malaysia mendekati musim kemarau. Mereka tidak sempat menggali perigi-perigi baru atau mendalamkan sumur sedia ada.

‘Islam Liberal’ dalam wacana mereka yang penuh ghairah, dinamik dan jamak perspektif mungkin sahaja terbabas atau tidak selalu mantap. Pasti ada lubang-lubang kelemahan dan sikap berlebih-lebih. Tetapi memang beginilah sifat wacana yang dinamik dan beragam – mereka sendiri mengiktiraf wujudnya jalur-jalur pelangi dalam beragama. Kelemahan tafsir adalah proses pembudayaan yang subjektif dan nisbi.

Namun, siapa yang boleh menyatakan bahawa semua isi wacana mereka ini ‘palsu’ secara totok sehingga tidak meninggalkan saki-baki kebenaran wahyu? Semua wacana itu suara “pendakwah di pintu neraka” yang mengambil ilham “orientalisme” dan idea “Kamal Attartuk” untuk “menyenangkan Amerika Syarikat”?

PAS, Abim dan JIM mengajak umat Islam, sekali lagi, bermain di padang propaganda dangkal, sejalur dan sepihak seumpama ini. Nampaknya mereka sengaja melambat-lambatkan proses mencari takungan ilmu baru daripada sintesis kreatif, antara dua ekstrem liberal dan fundamentalis yang sedang bergolak itu.

Bersediakah kita kehausan? Lambat laun, jika permainan sepihak diteruskan juga, umat Islam akan sedar bahawa bangkai gajah tidak mampu ditutup dengan lalang.

Untung propaganda PAS, JIM dan Abim buat masa sekarang kerana masih ramai anak muda tidak membaca dengan mendalam dan kritis, tidak merujuk sumber-sumber luar, dan masih percaya pada kata-kata manis gerakan agamawan.

Jika hal yang sebaliknya terjadi, bagaimana pula reaksi-reaksi wacana JIM, Abim dan PAS?

Kempen gerakan-gerakan Islam di Malaysia sekarang mengingatkan penulis ini pada ayat al-Qur’an: ana khairu minhu, khalaqtani min nari wa khataqtahu min tin – wacana ‘bertanduk’ untuk bersikap ‘besar kepala’ melulu!

Sama seperti dugaan Marx dan Engels sewaktu mereka berhasrat melancarkan manifesto itu dalam enam bahasa Eropah. Yakni, kuasa-kuasa tradisi (yang buruk dan kotor itu) mula rasa tercabar dan menentang pembaharuan idea!

Tidak seperti di negara kita, di Indonesia pendukung paradigma ‘Islam itu bermasalah’ bukanlah mereka yang tidak tahu berbahasa Arab sama sekali atau tidak pernah melalui tradisi keilmuan Islam. Pendek kata, mereka tidaklah boleh dianggap tidak akses kepada tradisi fikir agama seperti aktivis bukan agamawan di Malaysia (saat ini).

Di Indonesia, mereka menguasai (atau, cuba menguasai) kedua-dua wacana keilmuan sekali gus, agama dan disiplin kontemporari Barat. Dengan paduan inilah, mereka menyuarakan paradigma ‘Islam itu menyimpan paradoks’ dengan perkembangan semasa. Mereka mempertikaikan tradisi dan tafsir ‘orang-orang suci’ agama. Mereka berjaya menghidu ada tangan-tangan konspirasi untuk membekukan (dan membakukan) fikiran agama yang nisbi. “Pemberhalaan teks dan pengabaian realiti,” kata Abd Moqsith Ghazali, penyelaras kajian Jaringan Islam Liberal (JIL), Jakarta.

Mereka nampak Islam tradisi menjadi bidak-bidak catur kekuasaan, negara, segelintir elit dan golongan bourgeois. Agama tradisi tidak menyemak kuasa negara, tidak mempermasalahkan tafsir agamawan, tidak pro-rakyat, tidak demokratik, tidak pro-kebebasan berfikir dan terkurung dalam wacana patriarchy.

Di Malaysia, gerakan Islam belum cukup tercabar kerana ramai sekali pendukung aliran ‘Islam itu bermasalah’ bukanlah mereka yang terdidik dalam tradisi al-Azhar, pesantren atau pondok. Kedalaman wacana di negara ini juga (mungkin) tidak mencukupi untuk berhujah dengan beberapa agamawan PAS, JIM atau Abim.

Tetapi arus globalisasi dan ledakan pengetahuan itu akan merembes ke sini juga. Jika tidak memadai wacana Islam di Malaysia, buku-buku dan idea-idea dari serata dunia Islam lambat-laun akan singgah di pelabuhan wacana kita juga. Syukurlah semangat zaman ini, zeitgeist, bukan untuk tukang-tukang canang propaganda, tradisi dan kekuasaan.

Sampai bila kita mahu menyekat suara “pendakwah di pintu neraka” yang cuba “menyenangkan Amerika Syarikat” ini? Ketegangan dan kepalsuan yang bagaimana lagi yang kita mahu sebarkan untuk menutup fikiran dan mata umat Islam?

* Nota: Tajuk artikel ini diambil daripada tulisan M Qasim Mathar – sewaktu pertama membacanya, saya benar-benar tersentak, tetapi mujurlah baris berikutnya ditulis ‘Menuju Islam yang lain’ (lihat buku Islam, negara dan civil society: Gerakan dan pemikiran Islam kontemporer di bawah, hal. 397-412)

Sumber rujukan:

Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF, ed. (2005) Islam, negara dan civil society: Gerakan dan pemikiran Islam kontemporer, Jakarta: Paramadina

Luthfi Assyaukanie, ed. (2002) Wajah liberal Islam di Indonesia, Jakarta: Jaringan Islam Liberal

Nasr Abu Zayd (2004) Rethinking the Qur’an: Towards a humanistic hermeneutics, Utrecht: Humanistics University Press

Musnahkanlah Virus-virus benci

Saturday, May 20th, 2006

Perkataan sesat,menyimpang dan sebagainya makin banyak digunakan terutama untuk mengklafisikasikan kelompok dalam umat yang berbeda pandangan dengan "mainstream".Ini kerana mereka ini merasakan bahawa pemahaman Islam mereka sahaja yang benar dan sekaligus merasakan bahawa Islam itu adalah ekslusif dan hanya menerima satu tafsiran atau umat saja. Aryan_fist_150_1

Sebagai contoh di Indonesia,beberapa kiai terus mendorong agar Majlis Ulama` Indonesia dan PBNU segera mengambil sikap tegas terhadap Jaringan Islam Liberal (JIL) hanya kerana institusi itu mengembangkan tafsir keagamaan yang kritis-liberal-progresif, menentang oligarki dan otoritarianisme penafsiran dalam agama.Sama juga keadaannya di Malaysia dimana ada sesetengah kumpulan yang merasakan bahawa kelompok-kelompok yang mempunyai tafsiran yang berbeda seperti Sister in Islam(SIS) harus diambil tindakan yang tegas dan juga dihalang,malah dihapusi terus institusi ini kerana ianya dianggap sesat dan juga menyimpang.1_1

Saya tidak menyokong mana-mana institusi tersebut, tetapi dalam masa yang sama, saya tidak akan menyatakankan bahawa mereka ini sesat malah menyimpang kerana saya tidak mempunyai otoriti untuk berbuat demikian.

Persoalannya siapakah yang mempunyai otoriti untuk menyatakan sesebuah pandangan itu disebut sesat atau menyesatkan?Saya amat setuju sekali seperti yang ditegaskan oleh Abd Moqsith Ghazali, bahawa yang memiliki otoriti untuk itu tidak lain adalah Allah sendiri. Allah lah yang akan memutuskan di akhirat kelak tentang ajaran-ajaran yang dianggap menyimpang atau tidak. Allah SWT berfirman di dalam Alquran, inna rabbaka huwa yafshilu baynahum yawmal qiyamah fi ma kanu fihi yakhtalifun (sesungguhnya Tuhanmu yang akan mengambil kata putus atas perselisihan yang berlangsung di antara mereka, kelak pada hari kiamat). Di tempat yang lain, Allah SWT berfirman, inna rabbaka huwa a’lamu biman dlalla ‘an sabilihi wa huwa a’lamu biman ihtadza (sesungguhnya Tuhanmu adalah yang paling tahu perihal seseorang yang tersesat dari jalanya dan yang mendapatkan petunjuk).

Dengan ayat-ayat tadi, cukup jelas bahawa tidak ada seseorang atau lembaga manapun yang dapat mengambil kedudukan Tuhan sebagai hakim atas pelbagai jenis pandangan atau tafsir yang muncul di tengah umat Islam. Itu adalah hak prerogatif Allah yang tidak boleh dirampas oleh para fungsionaris agama yang tersebar di pelbagai lembaga atau ormas keagamaan manapun. Mungkin, Tuhan sengaja tidak menyerahkan peranan kehakiman tersebut kepada manusia atau ulamanya kerana terlampau mudah untuk disalahgunakan untuk tujuan-tujuan politis, ekonomis, dan lainnya.Tugas untuk menjatuhkan hukum atas para penafsir agama yang menyimpang itu tetap berada dalam genggaman Allah, dan tidak pernah didelegasikan kepada para ulama.

Tambahan pula, Islam adalah salah satu agama yang tidak mengenal hirarki, termasuk menyangkut perkara pemaknaan ajaran Islam. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda la rahbaniyyata fi al-Islam (tidak ada [hirarki] kependetaan di dalam Islam). Salah satu pengertian dari hadith ini adalah bahawa tafsir yang dikeluarkan oleh kelompok minoriti tak boleh dibatalkan oleh tafsir majoriti. Tafsir majoriti tidak berada dalam posisi yang lebih tinggi ketimbang minoriti. Dalam dunia penafsiran, keduanya adalah setara. Kaedah fikih yang amat popular mengatakan al-ijtihad la yunqadhu bi al-ijtihad (ijtihad tidak boleh dibatalkan dengan ijtihad yang lain). Sebuah tafsir adalah sah selama tidak memerintahkan seseorang untuk melakukan tindakan kekerasan. Akhirnya, janganlah sewenang-wenangnya menjatuhkan hukum sesat-menyesatkan kepada orang lain, kerana itu adalah hak Allah dan bukan hak manusia.

Wahai jiwa jiwa yang tenang jangan sekali kali kamu
Mencoba jadi tuhan dengan mengadili dan menghakimi

Bahwasanya kamu memang tak punya daya dan upaya
Serta kekuatan untuk menentukan kebenaran yg sejati

Bukankah kita memang tercipta laki laki dan wanita
Dan menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa yang pasti berbeda

Bukankah kita memang harus saling mengenal dan menghormati

Bukan untuk saling bercerai-berai dan berperang angkat senjata.

Hai Cinta..Dengarkanlah,aku ingin bicara

Wednesday, May 17th, 2006

Hari ini, di dalam surat khabar NST di siarkan komen Menteri di Jabatan Perdana Menteri Nazri Aziz tentang protest oleh kumpulan Anti Inter-Faith Commission Body (AIFCB) yang membantah akan sebuah forum di Jalan Penang.Forum tersebut, bertajuk "Federal Constitution — Protection For All", was organised by Article 11, an umbrella group of 13 non-governmental organisations.Berikutan ancaman daripada kumpulan tersebut, pihak polis menasihatkan penganjur agar menyelesaikan forum tersebut lebih awal kerana tidak menjamin akan keselamatan peserta yg menghadiri forum tersebut.

Ada sesetengah kelompok yg menggelarkan diri mereka "Islam" menyifatkan bahawa usaha sesetengah kelompok yang mempunyai pandangan serta tafsiran yang berbeda dengan "Islam" yang ditafsiran mereka adalah sesat dan harus dibenci malah wajib dihapusi.

Saya ingin melontarkan sedikit persoalan yang bermain difikiran saya.Islam yang mana dimaksudkan oleh mereka? Tidak ada Islam yang satu, sepeninggalan Nabi.Islam adalah satu dan sekaligus banyak.Dalam keragamannya Islam adalah satu,dalam kesatuannya, Islam adalah beragam. Jangan mengatakan ini adalah masalah semua umat. Umat alamat yang mana? Tidak semua umat islam yang protes! yang protes cuma sekelompok orang saja bukan semua.Mungkin juga pesanan yang ingin disampaikan oleh Ahmad Dhani didalam karya laskar cintanya yang diambil dari surah Al-hujarat ayat 13 ada benarnya.

Wahai jiwa jiwa yang tenang jangan sekali kali kamu
Mencoba jadi tuhan dengan mengadili dan menghakimi

Bahwasanya kamu memang tak punya daya dan upaya
Serta kekuatan untuk menentukan kebenaran yg sejati


Bukankah kita memang tercipta laki laki dan wanita
Dan menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa yang pasti berbeda

Bukankah kita memang harus saling mengenal dan menghormati

Bukan untuk saling bercerai-berai dan berperang angkat senjata

Dan artikel yang ditulis oleh ulil-abshar dibawah ini,pada saya sangat relevan akan isu yang dibincangkan ini.

Pasar Raya Tafsir dan Perahu Nuh

Saya membayangkan Islam sekarang ini mirip sebuah pasar besar dengan ratusan, bahkan ribuan, toko dan kios di dalamnya. Di sana kita temukan toko di mana Islam a la Gus Dur dijajakan. Di sebuah kios yang lain, kita temukan Islam sebagaimana ditafsirkan oleh Cak Nur. Ada sebuah kios yang ramai dikunjungi orang, terutama anak-anak muda; di sana kita lihat Islam sebagaimana ditafsirkan oleh Ustaz Ja’far Umar Talib digelar. Sejumlah kios yang menjajakan Islam a la Hassan Hanafi, Mohamed Arkoun, Abid Al Jabiri, Nasr Hamid Abu Zeid, Abdullahi Ahmed Anna’im, Sayyid Qutb, Yusuf Qardlawi, Ali Syari’ati dan “kemasan-kemasan imporan “ yang lain, juga tampak ramai dikerubuti oleh para mahasiswa. Semua kios itu ramai didatangi oleh para pengunjung yang rata-rata adalah anak-anak muda. Memang bisa dimaklumi, anak-anak muda masih mempunyai semangat besar untuk menjelajah dan mecobai sejumlah hal yang mereka anggap baru. Orang-orang tua yang sudah mapan dengan “pendapat tertentu” biasanya kurang tertarik untuk “shopping” dan belanja di pasar raya Islam yang kian ramai dan padat itu. Mereka sudah “nrimo” dengan kemasan-kemasan Islam yang mereka langgani sejak nenek dan kakek mereka.

Orang-orang tua biasanya sudah merasa tidak perlu lagi menjajal hal-hal baru yang belum tentu “khasiatnya”. Gambaran ini jelas hanya merupakan cara untuk menerangkan bagaimana hidupnya diskursus pemikiran yang berkembang di kalangan umat Islam Indonesia saat ini. Pandangan-pandangan yang berbeda saling berebut untuk menarik suatu celah dalam perdebatan pulik yang makin hidup dan bersemangat. Orang-orang Islam saat ini dengan mudah melakukan semacam “selancar virtual” dari satu toko ke toko yang lain, dari satu tafsir ke tafsir yang lain. Ini mungkin terjadi karena sejumlah faktor.

Pertama dan paling pokok adalah makin pentingnya kedudukan “budaya tulis” dalam masyarakat Islam Indonesia saat ini, seiring dengan makin besarnya jumlah kaum terdidik Islam yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga pendidikan modern. Kedua, makin bersemangatnya industri penerbitan buku-buku Islam selama satu dekade terakhir ini. Ketiga, makin beragamnya pendekatan-pendekatan yang dipakai oleh anak-didik Islam belakangan untuk menerjemahkan Islam dalam konteks kehidupan modern. Faktor terakhir yang sangat penting tentu adalah kebebasan politik yang muncul akhir-akhir ini di mana kebebasan itu pada akhirnya juga berdampak pada penciptaan ruang wacana yang kian terbuka bagi masyarakat. Kombinasi keempat faktor tersebut –serta sejumlah faktor lain yang tak usah terlalu diperinci di sini—telah memungkinkan lahirnya fenomena “ta’addudiyyah” atau keragaman Islam dalam bentuk pasar raya tafsir yag berwarna-warni. Pasar raya bisa merupakan tempat yang asyik untuk “cuci mata” dan melihat-lihat pemandangan yang serba berbeda.

Tetapi di pasar raya, sejumlah orang bisa juga tersesat dan tak tahu jalan bagaimana keluar dari labirin kios yang begitu banyak jumlahnya. Orang-orang tertentu akan merasa kebingungan memilih barang yang hendak dibeli. Orang-orang semacam ini bisa berpikiran bahwa pasar raya adalah jahat karena membuat banyak orang tersesat. Melalui prosedur penalaran tertentu, mereka bisa sampai kepada suatu kesimpulan bahwa sebuah pasar raya harus dibasmi, karena akan membingungkan para konsumen. Sebaiknya orang-orang kembali kepada pasar tradisional lama di mana toko ini dan itu sudah jelas di mana letaknya dan apa jualannya, serta siapa penjualnya.

Banyak orang Islam saat ini yang merasa adanya kejanggalan pada keragaman kata sifat yang melekat pada “Islam”. Ada Islam fundamentalis, Islam moderat, Islam revivalis, Islam modernis, Islam neo-modernis, Islam neo-revivalis, Islam liberal, dan Islam-Islam yang lain. Sejumlah ajektif itu hanyalah akan mengaburkan esensi dan kebenaran Islam itu sendiri. Islam, menurut orang-orang ini, hanyalah satu satu saja adanya, yaitu Islam sebagaimana diajarkan oleh Nabi dan sahabat-sahabatnya. Islam adalah satu. Pandangan semacam ini mencerminkan satu gejala yang muncul ketika seseorang berhadapan dengan pasar raya penafsiran: gejala “kelinglungan” berhadapan dengan warna-warni pilihan.

Sudah sejak zaman klasik, Islam yang satu itu selalu mengalami perbedaan penafsiran dari satu orang ke orang lain. Seorang penulis klasik, Asy Syahrastani menulis buku yang sudah sangat terkenal, Al Milal wan Nihal (Perihal Sekte-Sekte dan Golongan-Golongan), di mana dengan gamblang sekali ditunjukkan keragaman orang-orang Islam dalam memahami dan menerjemahkan Islam yang satu itu. Saat Nabi masih hidup, Islam memang hanyalah satu, sebab setiap kali muncul selisih pendapat perihal satu pokok soal, para sahabat bisa langsung datang dan bertanya kepada Nabi. Itulah sebabnya Qur’an mengatakan, “fa in tanaza’tum fi syai’in farudduhu ilal Lahi wa rasulih,” jika kalian berselisih pendapat, maka kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya.

Saat Nabi wafat, tempat orang-orang Islam bertanya itu sudah tak ada lagi kecuali deretan teks yang terbukukan dalam Qur’an dan Hadis. Di sinilah letak segala masalahnya: setiap teks selalu cenderung untuk membuka diri kepada sejumlah kemungkinan penafsiran. Dari sanalah dimulai embrio pasar raya penafsiran Islam itu. Pernah ada suatu masa di mana ada sejumlah golongan dalam Islam menyeru dengan penuh semangat bahwa kalau umat Islam hendak menyelesaikan segala masalah yang mereka hadapi, maka mereka harus kembali kepada Qur’an dan Hadis (ruju’ ilal Qur’an was Sunnah). Seruan semacam ini jelas sesuatu yang baik, tetapi tetap mengandung sejumlah masalah yang jarang disadari. Kembali kepada Qur’an dan Sunnah bukanlah sesuatu yang dengan mudah dilakukan, dan tidak dengan sendirinya menjamin bahwa umat Islam akan “ho lupis kuntul baris” berada dalam satu saf.

Sebab, bagaimana mereka kembali ke, dan menafsirkan, kedua sumber itu bisa sangat berbeda dari satu golongan ke golongan yang lain. Kita akhirnya menyadari bahwa Nabi sudah tidak berada di tengah-tengah umat Islam lagi, dan setiap perkara yang muncul harus mereka selesaikan sebaik mungkin berdasarkan kompetensi mereka dalam memahami semangat Qur’an dan Sunnah. Inilah situasi yang digambarkan oleh para penganjur teori postsrukturalisme sebagai “keadaan telah matinya seorang pengarang”. Setiap buku yang selesai ditulis oleh pengarang akan berlayar bagai perahu Nuh, dibimbing angin, meluncur ke lautan lepas, berkeliling ke bandar-bandar besar, tanpa bisa dikendalikan oleh si pengarang itu sendiri. Bahkan perahu itu boleh jadi tak akan pernah kembali lagi. Artinya: buku itu akan ditafsirkan secara beragam oleh para pembacanya, bahkan dalam cara yang mungkin tak diduga-duga oleh si pengarang itu sendiri. Islam setelah wafatnya Nabi adalah persis seperti perahu Nuh itu.

Dengan demikian, tak pernah ada Islam yang satu sepeninggal Nabi. Islam adalah satu dan sekaligus banyak. Dalam keragamannya, Islam adalah satu; dalam kesatuannya, Islam adalah beragam. Dua wajah janus Islam ini tidak bisa dielakkan lagi, apalagi pada zaman ketika “gempa tektonik” informasi terjadi dalam skala yang tak pernah ada presedennya seperti sekarang ini. Dawam Rahardjo pernah mengungkapkan dengan baik dalam ruangan Kajian Utan Kayu ini bahwa Qur’an haruslah didekati secara multidisipliner. Makin banyak peralatan ilmiah yang digunakan untuk mendekati Qur’an, dan dengan demikian juga Islam, maka akan semakin baiklah mutu penafsiran yang muncul dari sana. Makin cupet pendekatan yang dipakai, makain kelihatan Islam sebagai agama yang tidak “rahmatan lil ‘alamin”. Jika cara berpikir a la Dawam ini diikuti, maka suatu konsekwensi yang tak terhindari adalah makin beragamnya Islam karena sejumlah peralatan multidisiliner yang dipakai untuk mendekatinya.

Tidak semua orang siap masuk ke pasar raya. Untuk pergi ke sana, seseorang haruslah mempersiapkan diri baik-baik agar tidak tersesat ke dalam rimba kios dan toko yang tak karuan jumlahnya. Modal utama untuk berhadapan dengan pasar raya tafsir itu adalah adanya kesiapan “intelektual” untuk menerima bahwa apa yang saya pilih dan “beli” adalah salah satu saja dari sekian kemungkinan tafsir yang ada. Sebuah kebijaksanaan klasik yang konon pernah diucapkan oleh Imam Syafi’i layak dikutip di sini, “Pendapatku benar tapi mungkin salah, pendapat lawan diskusiku salah tapi mungkin benar.” Artinya: sikap menunda bahwa apa yang saya peluk dan percaya adalah yang paling benar, dan apa yang dikatakan orang lain pastilah salah. Dalam semangat kata-kata Imam Syafi’i ini kita bisa menilai sejauh mana ketepatan sikap sejumlah teman Muslim yang dengan mudah menghakimi kelompok-kelompok lain sebagai sesat, kafir, keluar dari Islam, murtad, menyeleweng, dan semacamnya. Sikap semacam itu menghalangi mereka untuk mengambil manfaat yang besar dari pasar raya tafsir yang ramai itu. Modal kedua untuk menghadapi pasar raya tafsir itu adalah sikap kritis dan skeptis sehingga tidak mudah untuk dikecoh oleh para pemilik kios yang selalu akan mengatakan, “Ini kecapku, dan kecapku adalah nomor satu.”

Saya selalu ingat sebuah pelajaran yang disampaikan oleh Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat), cendekiawan Muslim dari Bandung itu: memahami Islam dengan emosi yang tinggi dan berkobar-kobar akan mudah pudar; memahami Islam dengan akal yang dingin dan penalaran yang matang akan bertahan lama dan tak mudah goyah. Sikap yang tepat, dengan demikian, adalah memandang semua tafsir yang membanjiri pasar raya itu sebagai tantangan, bukan sebagai ancaman; dan memperlakukan teman Muslim yang ada di samping kiri kanan kita sebagai teman diskusi, bukan sebagai musuh yang semata-mata menjadi obyek pengkafiran dan penyesatan. Toh, dengan mengkafir-kafirkan begitu, perahu Nuh “Islam” itu tidak akan kembali lagi ke galangannya semula. Ia akan terus berlayar mengunjungi bandar-bandar di pelbagai negeri.[]

40 Guiding Principals of Islam

Wednesday, May 10th, 2006

40 Guiding Principals of Islam
by Kassim Ahmad

Quran1_3

We have summarized the teachings of the Holy Quran into 40 principles, arranging them, to the best of our knowledge, in an order of priority given in the Quran. We hope that Muslims can easily order their lives in that pattern and attain success. The numbers in parenthesis refer to some of the Quranic verses stating each principle.

  1. Believe in God and live righteously. (2:62, 112)

  2. Worship God alone and do not associate Him with anyone or anything else. (17:22-23)

  3. Do not fear mankind, but fear God. (5:44; 33:37, 39)

  4. Respect and honor your parents. (17:23-24)

  5. Enjoin good and forbid evil. (3:104)

  6. Fight in the cause of justice and truth with your wealth and your lives. (4:75; 9:111)

  7. Act justly, do not commit evil and rule according to God’s laws, i.e. justice, truth and mercy. (4:58, 135; 5:8; 7:28-29; 5:44)

  8. Perform prayers and other rites of worship, without quarrelling over methodology, and pay the poor-rate.
    (98:5; 22:67)

  9. Obey just leaders, respect, honor and support them, but do not idolize them. (4:59; 33:56; 9:30-31)

  10. Be an active, dynamic, creative and courageous person. (2:30-34; 4:75-77; 15:28-30)

  11. Do not be egoistic and proud. (25:43; 17:37)

  12. Treat everyone with civility and give greetings to all. (2:83; 28:55; 43:89; 4:86)

  13. Hold firmly to principles, but be flexible in methods. (2:67-71, 142; 3:103; 5:54; 22:67)

  14. Put moral considerations uppermost, but do not disregard your due material interests. (28:77)

  15. Save lives and do not kill except in the cause of justice. (17:33)

  16. Do not kill for fear of poverty. (17:31)

  17. Do not practice usury, but practice charity. (2:275-80)

  18. Be honest and fair in financial and economic dealings. (6:152)

  19. Practice consultations to solve problems. (42:36)

  20. Do not accept unverified information. (17:36)

  21. Listen to all views and follow the best. (39:18)

  22. Read in order to know, but read critically. (96:1-5)

  23. Unite and do not divide. (3:103; 6:159; 61:4)

  24. Fulfill promises. (17:34)

  25. Do not practice bribery and corruption. (2:188)

  26. Do not devour the properties of orphans. (17:34)

  27. Do not be extravagant and wasteful, or stingy. (17:26-29)

  28. Give charities to relatives, the poor and destitute and towards public welfare. (9:60; 17:26)

  29. Do not aggress, but defend yourself against aggression. (7:33; 42:39)

  30. Believers are brothers and make peace between believers. Avoid suspicion, spying and backbiting among believers. (49:9-10,12)

  31. Persevere in any good effort and do not fear to face difficulties and hardships.
    Success comes only after hardships. (2:45, 177; 94:5-8)

  32. Use intelligence, reason and historical precedents to understand and carry out God’s commands.
    (7:179; 8:22; 10:100; 12:111; 3:137)

  33. Speak the truth. Do not lie, although stratagem is allowed against adversaries.
    (8:7-8; 25:72; 33:70; 12:70-81)

  34. Enter into marriage with believers, do not marry disbelievers, and do not commit adultery.
    (5:5; 30:21; 17:32)

  35. Cooperate and help each other in good works; do not cooperate in evil works. (5:2)

  36. Eat and drink moderately, and avoid intoxicants and gambling. (7:31; 2:219)

  37. Dress decently. (24:30-31)

  38. Be kind and forgiving. (42:40,43)

  39. Do not ridicule or mock one another. (49:11)

  40. Do not ask about small and inconsequential details. (2:67-71; 5:101-102; 22:67)

Tudung/Jilbab - Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam.

Tuesday, May 9th, 2006

PENGENALAN

Kita harus boleh membezakan mana ajaran dalam Islam yang merupakan pengaruh culture Arab dan mana yang tidak. Islam itu kontekstual, dalam pengertian, nilai-nilainya yang universal harus diterjemahkan dalam konteks tertentu, misalnya konteks Arab, Melayu, Asia Tengah, dan seterusnya. Tetapi, bentuk-bentuk Islam yang kontekstual itu hanya ekspresi budaya, dan kita tidak diwajibkan mengikutinya. Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak wajib diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rejam, janggut, jubah, tidak wajib diikuti, kerana itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.

Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standard kemahuan umum (public decency). Kemahuan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia. Selama ini, kita terbiasa membaca buku atau cerita-cerita tentang kewajiban jilbab disertai ayat Alqur’an dan Hadis serta ancaman bila perempuan Islam tak memakainya. Ancaman-ancaman seperti rambut perempuan yang sudah baligh tak boleh diperlihatkan kerana itu aurat. Bila melanggarnya, rambut kita akan dibakar di neraka.

Tetapi ada pendapat yg menyatakan bahawa jibab itu tak wajib. Antaranya Muhammad Sa’id Al Asymawi . Beliau mengatakan bahwa hadis-hadis yang menjadi rujukan tentang pewajiban jilbab atau hijâb itu adalah Hadis Ahad yang tak boleh dijadikan landasan hukum tetap. Bila jilbab itu wajib dipakai perempuan, dampaknya akan besar.Beliau juga memberikan kutipan : “Ungkapan bahwa rambut perempuan adalah aurat kerana merupakan mahkota mereka. Setelah itu, nantinya akan diikuti dengan pernyataan bahawa mukanya, yang merupakan singgasana, juga aurat. Suara yang merupakan kekuasaannya, juga aurat; tubuh yang merupakan kerajaannya, juga aurat. Akhirnya, perempuan itu serba aurat.?Implikasinya, perempuan tak boleh melakukan apa-apa aktiviti sebagai manusia yang diciptakan Allah kerana serba aurat.”

SEJARAH

Di beberapa negara Islam, pakaian sejenis jilbab dikenal dengan beberapa istilah, seperti chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, charshaf di Turki, hijâb di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. Pergeseran makna hijâb pada mulanya bererti tabir, berubah maknanya menjadi pakaian penutup aurat perempuan hanya bermula semenjak abad ke-4 H.

Sebenarnya konsep hijab bukanlah ‘milik’ Islam. Misalnya dalam kitab Taurat, kitab suci agama Yahudi, sudah dikenal beberapa istilah yang sama makna dengan hijâb seperti tif’eret. Demikian pula dalam kitab Injil yang merupakan kitab suci agama Nasrani juga ditemukan istilah yang sama makna. Misalnya istilah zammah, re’alah, zaif dan mitpahat. Bahkan kata Eipstein yang dikutip Nasa-ruddin Umar dalam tulisannya yang pernah dimuat di Ulumul Quran,konsep hijâb dalam erti penutup kepala sudah dikenal sebelum adanya agama-agama Samawi (Yahudi dan Nasrani). Nasa-ruddin Umar berkata lagi, pakaian seperti ini sudah menjadi wacana dalam Code Bilalama (3.000 SM), kemudian berlanjut di dalam Code Hammurabi (2.000 SM) dan Code Asyiria (1.500 SM). Ketentuan penggunaan jilbab sudah dikenal di beberapa kota tua seperti Mesopotamia, Babilonia, dan Asyiria. Tradisi penggunaan tudung sudah pun dikenali dalam hukum kekeluargaan Asyiria. Hukum ini mengatur bahawa isteri, anak perempuan dan janda bila pergi ke tempat umum harus menggunakan tudung.

Dan kalau kita pergi lebih jauh mengenai konsep ini, ketika Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, maka persoalan pertama yang mereka alami adalah begaimana menutup kemaluan mereka (aurat) (QS. Thaha/20: 121). Dalam literature Yahudi ditemukan bahawa penggunaan hijâb berakar-umbi dari dosa asal. Iaitu dosa Hawa yang menggoda suaminya, Adam. Dosa itu adalah memujuk Adam untuk memakan buah terlarang. Akibatnya, Hawa beserta kaumnya mendapat kutukan.

TUDUNG/JILBAB MENURUT ISLAM

Berbeza dengan konsep hijâb dalam tradisi Yahudi dan Nasrani, dalam Islam, hijâb tidak ada kaitan sama sekali dengan kutukan atau menstruasi. Dalam konsep Islam, hijâb dan menstruasi pada perempuan mempunyai konteks-konteksnya sendiri. Persoalan memakai hijâb lebih dekat pada etika dan estetika dari pada ke persoalan substansi ajaran. Pelembagaan hijâb dalam Islam didasarkan pada dua ayat dalam Alqur’an yaitu QS. Al-Ahzab/ 33: 59 dan QS. An-Nur/24: 31.

Kedua ayat ini saling menegaskan tentang aturan berpakaian untuk perempuan Islam. Pada surat An-Nur/24: 31, kalimah “hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya” ini merupakan reaksi dari tradisi pakaian perempuan Arab Jahiliyah. Seperti yang digambarkan oleh Al-Allamah Ibnu Katsir di dalam tafsirnya: “Perempuan pada zaman jahiliyah biasanya melawati laki-laki dengan keadaan telanjang dada tanpa ada selimut sedikitpun. Bahkan kadang-kadang mereka memperlihatkan lehernya untuk memperlihatkan semua perhiasannya. Sementara,itu Imam Zarkasyi memberikan komentarnya mengenai keadaan perempuan pada masa jahiliyah: “Mereka mengenakan pakaian yang membuka leher bahagian dadanya, sehingga nampak jelas seluruh leher dan urat-uratnya serta anggota sekitarnya. Mereka juga menjulurkan tudung mereka ke arah belakang, sehingga bahagian muka tetap terbuka. Oleh kerana itu, maka segera diperintahkan untuk mengulurkan tudung di bahagian depan agar boleh menutup dada mereka. Pakaian yang memperlihatkan dadanya ini pernah dilakukan Hindun binti Uthbah ketika memberikan semangat perang kaum kafir Mekah melawan kaum muslim,pada perang Uhud. Dan perbuatan ini biasa dilakukan perempuan jahiliyah dalam keterlibatannya berperang untuk memberikan semangat juang kepada kaum lelaki.

Selain kerana faktor kondisional seperti yang digambarkan di atas, kedua ayat ini juga turunnya lebih bersifat politik dan diskriminatif. Surat Al-Ahzab yang didalamnya terdapat ayat hijab turun setelah perang Khandaq (5 Hijriyah). Surah An-Nur tadi diturunkan setelah al-Ahzab dan keadaannya pada ketika itu sedang memuncak. Ayat tersebut bersifat politik kerana ayat-ayat di atas turun untuk menjawab serangan yang dilancarkan kaum munafik, dalam hal ini Abdullah bin Ubay dan konco-konconya, terhadap umat Islam. Serangan kaum munafik ini “memakai perempuan Islam dengan cara memfitnah isteri-isteri Nabi, khususnya Siti Aisyah. Peristiwa terhadap Siti Aisyah ini disebut peristiwa peristiwa al-ifk.(Peristiwa al-ifk terjadi ketika Aisyah tertinggal dari rombongan di salah satu medan perang kerana ia mencari kalung permatanya yang hilang. Ketika sampai di khemah, beliau tidak lagi menjumpai seorangpun. Seluruh pasukan sudah meningalkan lokasi. Di saat Aisyah sendirian di khemah, datanglah Safwan ibn Mu’attal al-Sulami dengan untanya lalu membawanya ke Madinah. Pecahlah isu yang tidak elok dalam masyarakat. Dan ini dimanfaatkan oleh kaum munafik dengan koordinator Abdullah bin Ubay. Akibat peristiwa ini, Nabi membentuk kumpulan khusus untuk menyelediki keadaan ini). Pada saat itu, peristiwa ini sangat menghebohkan sehingga untuk mengakhiri-nya harus ditegaskan dengan diturunkannya lima ayat iaitu QS. An-Nur/23: 11-16.

Ayat-ayat ini juga turun di saat keadaan sosial pada ketika itu tidak aman seperti yang diceritakan di atas. Gangguan terhadap perempuan-perempuan Islam sangat berleluasa. Semua ini dalam rangka menghancurkan agama Islam. Maka ayat itu ingin melindungi perempuan Islam dari pelecehan itu. Dan Allah Swt telah menyebutkan alasan perintah berjilbab dan pemakaiannya. Firman-Nya, “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu.” Dalam hal ini, untuk membezakan antara perempuan merdeka dan perempuan tidak merdeka(hamba). Inilah yang dipahami bersifat elitis dan diskriminatif. Kerana dengan ayat ini, ingin membezakan status perempuan Islam yang merdeka dan tidak merdeka(hamba). Di sini dapat dilihat ambiguity Islam dalam melihat posisi perempuan yang tidak merdeka. Satu sisi ingin menghancurkan perhambaan, di sisi lain, masih mempertahankannya dalam strata masyarakat Islam misalnya dalam perbezaan berpakaian di atas.

CURRENT SITUATION

Dalam konteks masakini, jilbab juga menjadi simbol identiti, status, kelas dan kekuasaan. Menurut Crawley, misalnya, pakaian adalah ekspresi yang paling khas dalam bentuk material dari berbagai tingkatan kehidupan sosial sehingga jilbab menjadi sebuah kewujudan sosial, dan individu dalam komunitinya (Al Guindi 117).

Di Afrika Utara, jilbab menjadi pembungkam perempuan dalam wilayah public secara umum. Namun, kadangkala juga kerap digunakan oleh perempuan di desa ketika berangkat di luar wilayah mereka.?(Sharma 1978: 223-4). Di Yaman, jilbab sebagai simbol status yang terstratifikasi. Bagi perempuan bangsawan memakai syarsyaf, jenis jilbab yang terbuat dari sutera. Sementara perempuan dari status ekonomi yang lebih rendah cenderung memakai sitara. Makhlouf menyatakan bahwa “jilbab, walaupun jelas merupakan pembatasan komunikasi,[dia juga merupakan sebuah simbol] alat komunikasi ,[dan] berjilbab tentunya menciptakan suatu perintang bagi ekspresi bebas wanita sebagai seorang peribadi, [tapi jilbab juga meningkatkan] ekspresi diri dan femininitas.(Makhlouf 1979: 31-32). Lebih dari itu, jilbab juga menjadi simbol pembebasan dan resistensi. Sebagai gerakan resistensi, ia tak hanya berhenti pada masyarakat Timur Tengah, melainkan terejawantah dalam masyarakat muslim modern di berbagai belahan dunia. Resistensi adalah sebuah perlawanan atau strategi untuk mengukuhkan kewujudan seseorang atau suatu komunitas. Cudjoe dan Harlow mendefinasikan resistensi sebagai sebuah tindakan yang dirancang untuk membebaskan masyarakat dari penindasnya, dan ia sepenuhnya memasukkan pengalaman hidup dibawah penindasan itu, yang kemudian menjadi prinsip estetik yang otonom (Cudjoe dan Harlow: 2000).

Di Aljazair, misalnya, jilbab mempunyai peranan penting dalam proses kemerdekaan negara ini. Kolonial Perancis tidak hanya mengawal hukum Islam —perkara-perkara pidana tapi juga menghancurkan kebudayaan mereka,menyekat adat setempat, dan melarang warga mempelajari bahasa mereka sendiri. Para pendatang Perancis mendominasi wilayah Aljazair dan memegang posisi-posisi fungsionaris public, dan mengawal pos-pos subordinat di bawahnya. Strategi lainnya adalah “memPeranciskan” wanita Aljazair dengan mencabut akar budayanya. Jilbab menjadi target kolonial untuk mengawal dan melepaskan untuk mempengaruhi wanita Aljazair agar melepaskan jilbabnya dengan alasan untuk memodernisasikan Aljazair. Namun, budaya tradisional Arab–Aljazair memandang keluarga adalah pusat di mana dunia sosial moral itu berada; wanita adalah pusat identiti sakral keluarga dan penjaga harga diri dan reputasi keluarga Arab. Keibuan dipandang sakral. Maka, menyerang wanita Muslim, bererti mendestabilisasikan inti sistem sosial-spiritual dan memperkosa secara literal mahupun figuratif akar budaya mereka. Dan salah satu bentuk perlawanan Aljazair terhadap apa yang dilakukan oleh Perancis itu adalah memperkuat jilbab sebagai bahagian dari simbol nasional dan budaya perjuangan wanita Aljazair (El Guindi: 1996).

Di tanah air, jilbab tidak hanya dipakai orang tua, tapi juga para remaja, pekerja di pejabat, institusi mahupun pemerintahan, para artis, bahkan para pelacur sekalipun. Tentu, ia pun sarat dengan makna. Di satu sisi lain, jilbab menjadi simbol pakaian muslimah sejati, terutama yang berasal dari perkampungan. Di sisi lain, ia dijadikan busana yang lazim digunakan hanya pada momen-momen kerohanian —solat, Pengajian(ke kuliah), berkabung, bahkan saat menghadiri majlis pernikahan; sebaliknya ianya tidak dipakai pada berbagai aktiviti kesehariannya. Kalangan selebriti sibuk menutupi kepalanya yang pada kebiasaannya terbuka itu dengan jilbab hanya di bulan Ramadhan. Jelas pemakaian jilbab tak ada hubungan dengan kesolehan mahupun ketaatan beragama. Sebab, begitu apabila bulan suci itu tiada, jilbabnya pun dilepas. Bagi mereka, berjilbab hanyalah tuntutan pasar; strategi untuk meraih keuntungan material dengan penampakan spiritual.

Begitu pula para pelacur. di Nangroe Aceh Darussalam, mereka menyembunyikan identitinya dengan memakai jilbab (Lily Munir, 2002). Mengingati kedudukannya sebagai pekerja seks dalam ruang sosial dianggap hina, kotor, dan melecehkan moraliti, mereka harus mencari simbol sebagai alibi stereotip itu. Dengan memakai jilbab, mereka ingin kewujudan dan identiti mereka diakui dan dihormati di kalangan masyarakat. Dengan demikian, tidaklah layak jika kita mengeneralizekan bahawa perempuan berjilbab itu bererti suci, sopan, dan saleh. Begitu pula sebalikya, perempuan tidak berjilbab dilabelkan sebagai perempuan kotor, kurang sopan, dan tidak taat beragama.

CONCLUSION

Pendek kata, jilbab secara historicalnya mempunyai banyak makna. Jilbab lebih dari sekadar cita rasa berbusana keagamaan. Jilbab kadang-kadang tampil sebagai simbol ideologi dari suatu komuniti tertentu, menjadi fenomena bagi suatu lapisan elit sosial, menjadi simbol sesuatu gender, menjadi simbol komuniti patriarki, menjadi simbol “keterbatasan” peranan wanita, dan lain-lain. Jilbab adalah sebuah fenomena majmuk, memiliki tingkat-tingkat makna dan beragam konteksnya. Persoalan jilbab tidak lagi menjadi wajib-mubah, haram-halal, etis-tidak etis. Ia menyiratkan simbol sarat makna dan kepentingan, bergantung kepada siapa pemakainya Maka dapat disimpulkan disini, bahawa jilbab itu bukan kewajiban. Bahkan tradisi berjilbab di kalangan sahabat dan tabi’in, menurut Al-Asymawi, lebih merupakan keharusan budaya daripada keharusan agama. Sepanjang pemakaian jilbab itu adalah kerana atas kesedaran sebagai sebuah pilihan dan sebagai ekspresi pencarian jati diri seorang perempuan muslimah, dan yang paling jelas, tidak ada unsur paksaan dan tekanan didalam pemakaiannya.

Agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia; dan kerana manusia adalah organisme yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif, maka agama juga harus boleh mengembangkan diri sesuai dengan keinginan manusia itu sendiri. Yang ada adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan, kerana manusialah stake holder yang berkepentingan dalam semua perbincangan soal agama ini. Jika Islam hendak diseret kepada suatu penafsiran yang jesteru berlawanan dengan maslahat manusia itu sendiri, atau malah menindas kemanusiaan itu, maka Islam yang semacam ini adalah agama fosil yang tak lagi berguna buat umat manusia. Mari kita cari Islam yang lebih segar, lebih cerah, lebih memenuhi maslahat manusia. Mari kita tinggalkan Islam yang beku, yang menjadi sarang dogmatisme yang menindas maslahat manusia itu sendiri.

Baca teks sepenuhnya:

http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=339 http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=63 http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1