Salah satu perkembangan yang membimbangkan saya adalah makin kuatnya kecenderungan meninggalkan akhlak yang baik dikalangan kita.
Muhammad Iqbal, sufi yang juga seorang penyair, pernah menulis sebuah artikel berjudul “Konsep tentang Tuhan dan Makna Shalat” (The Conception of God and the Meaning of Prayer). Katanya, sholat pada dasarnya merupakan “alat bantu” (agency) bagi manusia untuk merefleksikan kesadarannya akan keberadaan Tuhan.
Saya tertarik dengan jawapan yang diberikan oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat penulis buku Dahulukan Akhlak di Atas Fikih, ketika ditanya mana yang lebih baik, muslim yang taat ibadahnya tapi tidak baik akhlaknya, atau yang kurang taat tapi berakhlak baik. Baginya, lebih baik yang akhlaknya bagus sekalipun solatnya buruk, berbanding solatnya bagus tapi akhlaknya buruk.
Ini kerana, sebaik apapun solat kita, akan terhapus pahalanya oleh akhlak yang buruk. Sedekah juga begitu. Jikakalau sedekah kita disusul dengan ucapan yang menyakiti hati, maka sedekahnya akan batal. Dalam Alqur’an diterangkan, “La tutbi’û shadaqâtikum bil manni wal ‘adzâ”, atau jangan kamu batalkan sedekahmu dengan menggerutu dan menyakiti hati orang yang menerima.
Alqur’an juga mengatakan, kalau orang menyakiti sesama manusia akan dilaknat Allah di dunia dan akhirat.
“Dan katakanlah (wahai Muhammad) kepada hamba-hambaKu (yang beriman), supaya mereka berkata dengan kata-kata yang amat baik (kepada orang-orang yang menentang kebenaran) sesungguhnya Syaitan itu sentiasa menghasut di antara mereka (yang mukmin dan yang menentang) sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagi manusia.” Surah Al-Israa ayat 53
Dalam surah al-Ahzâb: 57 dikatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang melakukan perkara yang tidak diredai Allah dan RasulNya, Allah melaknatkan mereka di dunia dan di akhirat dan menyediakan untuk mereka azab seksa yang menghina.”. Intinya, mereka yang menyakiti orang lain itu sedang menghapus seluruh amalnya.
Jadi, setiap kali orang solat, tapi akhlaknya buruk, suka menyakiti orang lain, maka setiap kali dia menyebut “Allahu akbar” dalam solat, Allah justru melaknatnya. Ertinya, solatnya hanya berfungsi untuk mengumpulkan laknat Allah. Jadi, betapa kasihan orang yang solatnya baik tapi akhlaknya buruk, karena seluruh ibadah solatnya gugur.
Kalau ingin tahu baiknya solat seseorang, lihatlah amalnya di masyarakat. Kalau amalnya baik, itu berarti solatnya baik, tidak peduli apa mazhabnya. : hablun minalLâh atau hubungan baik dengan Tuhan itu diukur dari hubungan baik dengan sesama manusia (hablun minan nâs). Jangan ada yang merasa sudah takwa pada Allah hanya kerana ibadahnya baik. Tapi, lihatlah apa sumbangan dia bagi kemanusiaan. Alqur’an sendiri mengatakan bahwa orang-orang yang membanggakan ritus-ritus agama tapi tidak ada buktinya dalam kehidupan bermasyarakat. Jika hablun minan nâs seseorang baik, ini bererti hablun minalLâh-nya juga baik.
Jadi, akhlak yang baik sesama manusia, juga mencerminkan akhlak yang baik terhadap tuhan. Menggunakan kata-kata yang baik,boleh mengurangkan perbalahan dan pertikaian didalam masyarakat khursusnya sesama kita.
Hubungan baik sesama kita sangatlah perlu dijaga. Jangan sampai melukai hati dan perasaan orang lain, memutuskan silatuhrahim.Contohilah akhlak Rasullullah dimana Allah berfirman, " Sesungguhnya pada diri Rasulullah Saw itu contoh teladan yang baik iaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat dan keridaan di hari kiamat dan sebutlah nama Allah banyak-banyak." (Surah Al-Ahzab ayat 21).